Project Seru Penuh Kejutan

Darmin: Analisis PANS Maret, Sektor Komoditas, Energy-Related, dan Poultry Berpeluang Cuan

April 4, 2026 • 0 Views
Darmin: Analisis PANS Maret, Sektor Komoditas, Energy-Related, dan Poultry Berpeluang Cuan
Darmin: Analisis PANS Maret, Sektor Komoditas, Energy-Related, dan Poultry Berpeluang Cuan

PSPK – 04 April 2026 | PT Panin Sekuritas (PANS) memperingatkan bahwa ketidakpastian durasi dan intensitas gangguan di Selat Hormuz menambah volatilitas pasar global. Meskipun begitu, portofolio bulanan PANS berhasil mengungguli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Maret 2026, mencatat penurunan -10,7% dibandingkan IHSG yang turun -14,4%.

Business Development PANS Cabang Medan, Darmin S.E., MBA, menjelaskan bahwa pasar sempat mengharapkan tidak ada pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). Namun pada pertemuan FOMC Maret 2026, The Fed tetap mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50‑3,75%. Proyeksi terbaru masih memberi peluang satu kali pemotongan suku bunga di tahun 2026, sejalan dengan ekspektasi inflasi jangka panjang Amerika Serikat yang masih terjaga.

Data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi inti PCE AS pada Februari 2026 naik menjadi 3,1% YoY (sejalan konsensus), sedangkan PDB AS kuartal IV 2025 direvisi turun signifikan menjadi 0,7% QoQ dari perkiraan semula 1,4% QoQ. Penurunan ini menambah kekhawatiran akan potensi stagflasi, meski belum terkonfirmasi.

Ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu pergeseran dana ke aset safe‑haven, menguatkan dolar AS dan meningkatkan aliran ke US Treasuries.

Indonesia masih rentan terhadap guncangan pasokan energi global. Berdasarkan data 2025, konsumsi BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik diproyeksikan hanya 0,61 juta barel per hari pada APBN 2026. Artinya, sekitar 60‑62% kebutuhan minyak harus diimpor, meskipun ketergantungan pada minyak dari Selat Hormuz lebih rendah dibandingkan beberapa negara Asia lainnya.

Tekanan inflasi yang masih di atas target Bank Indonesia (2,5 ± 1% YoY) dan volatilitas nilai tukar menambah tantangan bagi kondisi makroekonomi. Indikator utama seperti PMI Manufaktur Maret 2026 turun menjadi 50,1 dari 53,8 sebelumnya, menandakan perlambatan ekspansi. Bank Indonesia kembali menahan suku bunga pada 4,75% untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.

Di sisi fiskal, pemerintah menekan belanja negara untuk mengendalikan defisit dan utang, termasuk penyesuaian subsidi BBM dan pangan. Sentimen pasar pada Maret 2026 dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik, kekhawatiran penurunan rating obligasi Indonesia, serta sikap menunggu kebijakan regulator terkait penyesuaian MSCI.

Rekomendasi Saham PANS untuk April 2026

  • BBTN (Bank Tabungan Negara)
  • ELSA (Elang Mahkota Nusantara)
  • BRMS (Bumi Resources Minerals)
  • JPFA (Japfa Comfeed)
  • MEDC (Medco Energi Internasional)
  • BUMI (Bumi Resources)
  • MDKA (Mitra Daya Kencana)

PANS memperingatkan agar tetap berhati‑hati terhadap saham konglomerasi yang telah mengalami kenaikan signifikan sejak Oktober 2023, mengingat valuasi tinggi dan free‑float rendah. Regulasi baru tentang free‑float akan mengharuskan perusahaan dengan kapitalisasi pasar ≥ Rp5 triliun memiliki free‑float minimal 12,5% pada Maret 2027 dan 15% pada Maret 2028; sementara perusahaan di bawah Rp5 triliun mendapat kelonggaran hingga Maret 2029.

Seluruh sektor mengalami koreksi tajam. Indeks IDXCYC turun -19,8% MoM, dipicu penurunan saham VKTR, sementara IDXBASIC jatuh -19,5% MoM akibat penurunan harga logam seperti nikel, timah, tembaga, serta melemahnya harga emas karena penguatan dolar.

Sektor yang direkomendasikan untuk April 2026

  1. Komoditas: Emas dipandang menarik setelah koreksi harga dan penurunan DXY.
  2. Energy‑related: Harga minyak dan batu bara masih berpotensi naik mengingat belum ada penyelesaian konflik geopolitik.
  3. Poultry: Harga broiler dan DOC tetap stabil berkat program MBG, sehingga sektor unggas menawarkan peluang.

Sektor yang diperkirakan tetap tertekan

  • Konglomerasi dengan free‑float <15% dan valuasi mahal.
  • Properti, karena pertumbuhan terbatas dan kenaikan suku kredit menambah risiko gagal bayar.

Volatilitas IHSG diprediksi tetap tinggi pada April 2026, terutama dipengaruhi oleh perkembangan negosiasi konflik, ketegangan AS‑Iran, serta risiko kredit privat. Investor akan memantau dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi dan kebijakan moneter, serta langkah lembaga keuangan besar yang membatasi penarikan dana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *