PSPK – 03 April 2026 | Ray Dalio, pendiri hedge fund terbesar di dunia, Bridgewater Associates, kembali mengingatkan bahwa sejarah peradaban sering berulang. Menurutnya, kontrol atas Selat Hormuz dapat menjadi ujian terakhir bagi dominasi Amerika Serikat di panggung internasional.
Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia, telah lama menjadi titik strategis. Jika aliran minyak terhenti, harga energi akan melambung tajam, mengancam stabilitas ekonomi global, khususnya negara‑negara konsumen di Eropa dan Asia.
Dalio menyoroti paralel sejarah antara kegagalan Inggris mengendalikan Terusan Suez pada 1956 dan potensi kegagalan Amerika mengamankan Hormuz. Pada masa Suez, Inggris kehilangan posisi sebagai kekuatan maritim utama setelah Mesir menasionalisasi kanal tersebut. Amerika, bersama Uni Soviet dan PBB, memaksa Inggris untuk mundur. Ia berpendapat, jika Amerika tidak mampu membuka Selat Hormuz, kepercayaan dunia terhadapnya dapat runtuh, memicu penurunan nilai dolar, penjualan obligasi, dan pergeseran ke aset aman seperti emas.
Beberapa faktor yang memperkuat argumen ini meliputi:
- Utang nasional Amerika mencapai sekitar 38 triliun dolar dengan beban bunga lebih dari 1 triliun dolar per tahun.
- Iran secara konsisten menegaskan tidak akan membuka selat tanpa persetujuan, bahkan mengancam akan memperpanjang konflik bila dipaksa.
- Krisis energi yang dipicu penutupan Hormuz dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi global, mengganggu rantai pasok, dan menambah tekanan fiskal pada negara‑negara yang bergantung pada impor minyak.
Jika skenario penutupan terjadi, konsekuensi yang diprediksi meliputi:
- Kenaikan tajam harga minyak mentah, mengakibatkan inflasi energi di hampir semua negara.
- Gangguan pasokan energi di Eropa, memaksa percepatan transisi ke sumber energi alternatif.
- Kerusakan pada pendapatan negara‑negara Teluk yang bergantung pada ekspor minyak, memicu ketidakstabilan politik di kawasan.
- Penguatan blok ekonomi alternatif seperti BRICS, yang dapat menurunkan peran dolar sebagai mata uang cadangan.
Dalio menegaskan bahwa ketika Amerika terjebak dalam beban utang yang berat dan kehilangan keunggulan militer serta keuangan, kepercayaan internasional terhadapnya akan melemah. Hal ini dapat memicu serangkaian efek domino, termasuk penurunan nilai mata uang, penjualan obligasi, serta pergeseran aliansi geopolitik.
Meski demikian, peluang adanya kesepakatan antara Amerika dan Iran tampak kecil. Iran menegaskan komitmennya untuk mempertahankan kontrol atas Hormuz, dengan keyakinan bahwa tekanan ekonomi terhadap Amerika akan mempercepat kemunduran negara tersebut.
Dengan latar belakang ini, Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran, melainkan simbol kekuasaan geopolitik yang dapat menentukan arah masa depan Amerika dan tatanan dunia secara keseluruhan.










