PSPK – 03 April 2026 | Aliansi Mahasiswa Pemuda Palembang kembali menyoroti dua proyek strategis milik Pemerintah Kota Palembang, yakni revitalisasi Benteng Kuto Besak dan pembangunan Bundaran Air Mancur (BAM), yang keduanya diklaim menyimpan indikasi korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) serta ketidaksesuaian dokumen perencanaan.
Koordinator aksi, Eko Wahyudi, menjelaskan bahwa pelaksanaan revitalisasi Benteng Kuto Besak tidak mengikuti jadwal kontrak yang telah ditetapkan, menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas pengawasan serta potensi kerugian keuangan negara. Sementara itu, proyek BAM dengan anggaran sekitar Rp10 miliar dianggap tidak transparan dalam penyusunan Dokumen Detail Engineering Design (DED), dokumen yang seharusnya menjadi acuan teknis utama.
“Masyarakat berhak mengetahui siapa konsultan yang menyusun DED, bagaimana proses pemilihannya, dan apakah perencanaan telah melalui pengawasan yang ketat. Jangan sampai proyek publik berjalan tanpa akuntabilitas,” ujar Dodi Hari Utama, koordinator lapangan.
Berikut tuntutan Aliansi Mahasiswa Pemuda Palembang:
- Mengusut dugaan KKN dalam revitalisasi Benteng Kuto Besak oleh Kejaksaan Negeri Palembang.
- Melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap pelaksanaan proyek.
- Menuntut penyelidikan transparan atas pembangunan Bundaran Air Mancur senilai Rp10 miliar.
- Meminta aparat penegak hukum memeriksa semua pihak terkait tanpa tebang pilih.
- Mengungkap informasi publik terkait DED Bundaran Air Mancur.
- Menuntut penjelasan resmi tentang konsultan perencana, mekanisme pemilihan, dan proses evaluasi desain.
Aliansi menegaskan bahwa ketidakjelasan dalam perencanaan dan penyusunan DED dapat menimbulkan kecurigaan publik terhadap penyimpangan. Mereka berkomitmen mengawal isu ini hingga muncul langkah konkret dari aparat penegak hukum dan pemerintah daerah untuk memastikan pembangunan di Palembang berjalan secara transparan, akuntabel, dan berpihak pada kepentingan masyarakat.
“Jika tidak ada keterbukaan dan tindakan hukum yang nyata, kami siap meningkatkan aksi dengan massa yang lebih besar,” pungkas Eko Wahyudi.










