PSPK – 12 Maret 2026 | Pemerintah Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan harga minyak global menyusul ketegangan geopolitik yang memuncak di kawasan Timur Tengah, terutama antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik tersebut dapat mengganggu alur jalur pengiriman energi, khususnya di Selat Hormuz, yang menjadi salah satu rute utama ekspor minyak dunia.
Fluktuasi tersebut langsung berdampak pada Indonesia Crude Price (ICP), yang biasanya berada sekitar US$4 per barel di bawah harga acuan Brent. Dengan Brent berada di kisaran US$84–85 per barel, ICP diproyeksikan berada pada level yang sama.
Beberapa hari terakhir pasar minyak global menunjukkan pergerakan yang tajam: Brent sempat mencapai US$103–105 per barel, turun ke US$87–88, lalu kembali naik sekitar 7 % ke US$98,69 per barel. Media internasional mengidentifikasi ketidakpastian geopolitik sebagai faktor utama volatilitas ini.
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Harga Brent terkini | US$98,69/barel |
| ICP perkiraan | US$84–85/barel |
| Asumsi APBN 2026 | US$70/barel |
Jika harga minyak melebihi asumsi APBN 2026, tekanan terhadap anggaran negara akan meningkat, terutama dalam pembiayaan subsidi energi. Untuk meredam dampak tersebut, pemerintah menyiapkan langkah strategis, antara lain memperkuat cadangan energi domestik, menjamin kelancaran pasokan, serta mempertahankan kebijakan subsidi dan kompensasi energi.
Subsidi energi dipandang sebagai instrumen penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi domestik di tengah gejolak harga global. Pemerintah berharap konflik di Timur Tengah tidak berlarut-larut sehingga stabilitas harga energi dunia dapat dipulihkan kembali.












