PSPK – 28 Maret 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat, 27 Maret, mengeluarkan pernyataan yang menyinggung Kuba sebagai “target selanjutnya” dalam rangkaian ancaman baru terhadap negara Karibia tersebut. Pernyataan tersebut disampaikan saat ia berbicara di forum investasi FII Priority yang disponsori Saudi di Miami, sekaligus menegaskan bahwa gerakan Make America Great Again (MAGA) tidak kehilangan dukungan politik meski kebijakan militer terbaru Amerika Serikat menuai kekhawatiran.
Trump menegaskan bahwa militer Amerika Serikat telah dibangun dengan kapasitas kuat, meskipun tidak selalu harus digunakan, namun kadang diperlukan. Ia menyebutkan kembali operasi militer pada Januari yang berhasil menangkap pemimpin Venezuela Nicolas Maduro, lalu menambahkan secara samar bahwa Kuba akan menjadi tujuan berikutnya, sambil meminta wartawan mengabaikan komentar tersebut. Pernyataan itu memicu tawa di antara hadirin.
Selain menyinggung Kuba, sang mantan presiden juga menggoda dengan menyebut Selat Hormuz sebagai “Selat Trump”. Di sisi lain, pemimpin Kuba, Miguel Díaz‑Canel, menegaskan bahwa setiap agresi eksternal akan dihadapi dengan perlawanan yang tak tergoyahkan, meskipun negara pulau itu baru-baru ini mengalami dua pemadaman listrik nasional dalam satu minggu.
Hubungan ekonomi antara Amerika Serikat dan Kuba kembali memanas setelah Trump menjatuhkan blokade minyak de‑facto pada Januari dan mengisyaratkan kemungkinan “menguasai” pulau tersebut. Kebijakan tersebut menambah tekanan pada embargo perdagangan yang telah diberlakukan sejak revolusi Fidel Castro pada 1959.
Seorang diplomat senior Kuba menyatakan bahwa Havana tetap terbuka untuk dialog dengan Washington, namun perubahan sistem politik Kuba dianggap tidak dapat dinegosiasikan. Pada hari yang sama, dua kapal layar yang menjadi bagian dari konvoi internasional pengirim bantuan medis, makanan, panel surya, dan barang lain ke Kuba dilaporkan menghilang tanpa jejak.
Secara keseluruhan, pernyataan Trump menandai eskalasi retorika Amerika Serikat terhadap Kuba sekaligus upaya menegaskan kembali dukungan basis pemilih MAGA di tengah kritik kebijakan luar negeri yang semakin keras.










