PSPK – 13 Maret 2026 | Serangkaian serangan militer Israel ke wilayah Lebanon sejak awal Maret 2026 menimbulkan dampak kemanusiaan yang sangat mengerikan. Hingga 13 Maret, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan total 687 orang tewas, termasuk 98 anak-anak, 62 perempuan, dan 18 paramedis. Jumlah korban luka mencapai 1.774 jiwa, dengan 304 anak-anak, 328 perempuan, serta 45 tenaga medis yang terluka. Kejadian ini terjadi bersamaan dengan gelombang pengungsian massal yang memaksa lebih dari 800 ribu warga Lebanon meninggalkan rumah mereka.
Skala Korban dan Luka-Luka
Data resmi menunjukkan rincian korban yang sangat memprihatinkan. Korban tewas tidak hanya terdiri dari warga sipil, tetapi juga melibatkan tenaga medis yang sedang menjalankan tugasnya di zona konflik. Sementara itu, jumlah luka-luka menambah beban pada sistem kesehatan yang sudah tertekan.
- Jumlah tewas: 687 jiwa
- Anak-anak tewas: 98 orang
- Perempuan tewas: 62 orang
- Paramedis tewas: 18 orang
- Jumlah luka-luka: 1.774 jiwa
- Anak-anak luka: 304 orang
- Perempuan luka: 328 orang
- Paramedis luka: 45 orang
Pengungsian Massal
Menteri Urusan Sosial Lebanon, Haneen Sayed, mengonfirmasi bahwa hingga 11 Maret, sebanyak 816.000 orang terpaksa mengungsi akibat serangan udara, serangan darat terbatas, serta ancaman berkelanjutan di wilayah selatan Beirut dan daerah timur negara itu. Dari total pengungsi, sekitar 126.000 orang telah ditempatkan di 589 pusat penampungan yang tersebar di seluruh negeri. Pemerintah berupaya mengkoordinasikan transportasi dan logistik untuk memastikan pengungsi dapat mencapai tempat yang aman.
Latar Belakang Konflik
Ketegangan antara Israel dan Hezbollah memuncak pada 2 Maret 2026, ketika kelompok militan Lebanon meluncurkan serangan roket ke situs-situs militer Israel sebagai balasan atas serangkaian serangan udara Israel ke Lebanon dan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam operasi gabungan AS‑Israel pada akhir Februari. Israel merespons dengan melancarkan kampanye militer ofensif, menargetkan area‑area yang diduga menjadi basis Hezbollah, termasuk wilayah pinggiran selatan Beirut. Pada 3 Maret, pasukan Israel melakukan serangan darat terbatas di selatan Lebanon, menandai eskalasi konflik yang sebelumnya bersifat sebagian besar udara.
Serangan tersebut tidak hanya menargetkan infrastruktur militer, melainkan juga menimbulkan kerusakan signifikan pada bangunan sipil, fasilitas kesehatan, dan jaringan listrik. Foto-foto yang diambil oleh wartawan menunjukkan reruntuhan rumah, jalan yang hancur, dan tumpukan puing di daerah‑daerah padat penduduk. Dampak psikologis terhadap anak-anak dan perempuan yang menjadi mayoritas korban luka juga menjadi perhatian utama organisasi kemanusiaan internasional.
Dengan meningkatnya jumlah korban jiwa dan pengungsi, komunitas internasional menyerukan gencatan senjata dan dialog damai antara kedua belah pihak. Namun, hingga kini belum ada indikasi konkret bahwa kedua pihak akan menghentikan aksi militer mereka. Situasi di perbatasan Israel‑Lebanon tetap tegang, dengan kemungkinan eskalasi lebih lanjut yang dapat memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah melanda wilayah tersebut.












