PSPK – 09 Maret 2026 | Seorang anak berusia sembilan tahun dari Padukuhan Keboan, Kalurahan Karangwuni, Kapanewon Wates, Kabupaten Kulon Progo, ditemukan meninggal dunia setelah tenggelam di muara Sungai Serang pada akhir pekan kemarin. Insiden ini memicu keprihatinan luas di kalangan masyarakat setempat dan menyoroti pentingnya kewaspadaan pada area perairan yang rawan.
Rangkaian Kejadian
Pukul sekitar 16.00 WIB, Sabtu 7 Maret 2026, anak tersebut sedang bermain bersama dua temannya di tepi muara Sungai Serang, tepatnya di wilayah Kalurahan Glagah, Kapanewon Temon. Menurut keterangan saksi, saat bermain anak itu tiba‑tiba terjatuh ke dalam aliran deras dan tidak dapat mengangkat diri kembali. Teman‑temannya langsung melaporkan kejadian kepada warga sekitar yang kemudian menghubungi Tim SAR.
Petugas SAR gabungan, yang dipimpin oleh Kepala Kantor SAR Yogyakarta Rio Banupanitis, menerima laporan pertama tentang sepeda yang tertinggal di muara pada pukul 12.30 WIB. Penelusuran selanjutnya mengidentifikasi pemilik sepeda tersebut sebagai anak berinisial BN (9) yang kemudian dikonfirmasi oleh teman‑temannya sebagai korban yang hilang.
Upaya Pencarian dan Penemuan
Tim SAR Gabungan melakukan penyisiran intensif sejak sore hari, melibatkan unit SAR darat, unit Inafis Polres Kulon Progo, serta petugas kebencanaan setempat. Pada malam Minggu, 8 Maret 2026, sekitar pukul 21.52 WIB, petugas melihat tubuh korban mengapung di sekitar 50 meter dari lokasi pertama hilangnya anak itu, tepatnya di area pemecah gelombang Pantai Glagah.
Setelah tubuh berhasil diangkat ke darat, dilakukan pemeriksaan medis oleh tim Inafis. Hasil identifikasi memastikan bahwa jasad tersebut adalah BN (9) yang sebelumnya dilaporkan tenggelam. Keluarga korban yang menunggu di posko SAR langsung menerima konfirmasi dan jasad kemudian dibawa ke rumah duka untuk proses pemakaman.
Pernyataan Pejabat dan Reaksi Masyarakat
Humas Kantor SAR Yogyakarta, Pipit Iriyanto, menyampaikan bahwa operasi pencarian resmi ditutup setelah proses identifikasi dan penyerahan jenazah selesai. “Korban ditemukan dalam kondisi mengapung sekitar 200‑250 meter arah barat dari lokasi kejadian. Tim SAR langsung melakukan evakuasi dan menyerahkan jasad kepada pihak berwenang,” ujar Pipit dalam konferensi pers singkat.
Rio Banupanitis menambahkan, “Kejadian ini mengingatkan kita semua akan bahaya air, terutama di daerah muara sungai yang arusnya kuat dan berubah‑ubah. Kami menghimbau warga untuk selalu mengawasi anak-anak saat berada di dekat perairan dan melaporkan hal‑hal yang mencurigakan secara cepat.”
Masyarakat Kulon Progo mengungkapkan rasa duka mendalam. Beberapa warga mengorganisir penggalangan dana untuk membantu biaya pemakaman dan memberikan dukungan moral kepada keluarga korban.
Langkah Pencegahan Kedepan
- Penambahan pos pengawas di area muara dan pantai yang rawan.
- Peningkatan sosialisasi tentang bahaya arus kuat melalui program edukasi di sekolah.
- Pemasangan rambu peringatan di titik‑titik rawan serta patroli rutin oleh tim SAR lokal.
Selain itu, Dinas Perhubungan dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kulon Progo berkoordinasi untuk melakukan evaluasi terhadap kondisi geografis muara Sungai Serang, guna mengidentifikasi area yang paling berisiko dan menyiapkan langkah mitigasi jangka panjang.
Insiden ini juga menambah daftar tragedi air yang menimpa anak‑anak di Indonesia dalam beberapa bulan terakhir, mengingat kasus serupa di Banjar, Bali, yang melibatkan bocah 12 tahun. Kejadian berulang ini menegaskan perlunya kebijakan yang lebih tegas dalam pengelolaan daerah perairan serta peningkatan kesiapsiagaan tim SAR di tingkat kabupaten.
Dengan berakhirnya operasi pencarian, fokus kini beralih pada pemulihan emosional keluarga korban dan upaya preventif agar tragedi serupa tidak terulang. Semua pihak diharapkan dapat bersinergi demi keamanan anak‑anak Indonesia, terutama di wilayah yang memiliki potensi bahaya alam tinggi.












