PSPK – 05 Maret 2026 | Jakarta, 6 Maret 2026 – Menghadapi duka mendalam atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei, komunitas Muslim Indonesia menyelenggarakan tahlilan tujuh hari di International Conference Center (ICC) Jakarta. Acara ini tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya umat untuk berdoa, tetapi juga menjadi ajang diplomasi informal yang memperkuat hubungan antarnegara di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah.
Rangkaian tahlilan dimulai pada hari pertama, Senin 5 Maret, dengan pembacaan ayat-ayat Al‑Quran, doa bersama, serta ceramah singkat oleh ulama terkemuka dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Selama tujuh hari, acara dihadiri oleh pejabat pemerintah, diplomat, serta perwakilan komunitas Muslim dari berbagai negara, termasuk Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, yang menyampaikan ucapan terima kasih kepada tuan rumah atas dukungan moral dan spiritual.
Latarlatar Kematian Khamenei dan Reaksi Internasional
Ayatollah Ali Khamenei, yang menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989, meninggal pada 28 Februari 2026 akibat serangan udara yang dilancarkan oleh koalisi Amerika Serikat dan Israel. Kematian beliau memicu gelombang duka nasional di Iran dan menimbulkan ketegangan lebih lanjut di kawasan Timur Tengah. Pemerintah Iran menanggapi dengan meluncurkan serangan balasan ke beberapa wilayah Teluk, termasuk Dubai, Abu Dhabi, Qatar, dan Bahrain, serta memperluas operasi militernya ke Lebanon untuk menghadapi Hezbollah.
Di Indonesia, Presiden Prabowo Subianto menanggapi peristiwa tersebut dengan mengirim surat resmi kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Surat duka cita tersebut diserahkan secara pribadi oleh Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, kepada Duta Besar Iran di Jakarta. Dalam pertemuan itu, kedua belah pihak membahas pentingnya de‑eskalasi konflik dan menegaskan komitmen untuk menghormati hukum internasional serta Piagam Perserikatan Bangsa‑Bangsa.
ICC Jakarta sebagai Pusat Tahlilan
ICC Jakarta dipilih sebagai lokasi tahlilan karena kapasitasnya yang besar serta fasilitas yang memadai untuk menampung ribuan orang. Selama tujuh hari, ICC menjadi tempat berkumpulnya para pelayat, tokoh agama, serta perwakilan lembaga pemerintahan. Acara dimulai dengan doa bersama pukul 19.00 WIB setiap malam, diikuti dengan pembacaan Al‑Quran dan tahlil secara berkelanjutan.
Pengelola acara menyiapkan area khusus bagi para pelayat internasional, lengkap dengan layanan penerjemah bahasa Persia, Arab, dan Inggris. Hal ini memungkinkan keluarga dekat dan pejabat Iran yang berada di luar negeri untuk turut serta dalam prosesi tahlilan secara virtual melalui siaran langsung yang disiarkan melalui platform resmi pemerintah Iran serta media sosial Indonesia.
Reaksi dan Harapan Diplomasi
- Prabowo Subianto: “Indonesia siap menjadi mediator yang netral untuk menurunkan ketegangan, sekaligus memberikan dukungan spiritual bagi saudara‑saudara Muslim di Iran.”
- Menlu Sugiono: Menekankan pentingnya menghormati hukum internasional dan mengajak semua pihak untuk menghindari eskalasi lebih lanjut yang dapat melibatkan negara‑negara lain.
- Duta Besar Iran, Mohammad Boroujerdi: Mengapresiasi solidaritas umat Islam Indonesia dan menegaskan bahwa tahlilan di Jakarta menjadi bukti persaudaraan Islam yang melampaui batas negara.
Selain aspek religius, tahlilan ini juga menjadi platform untuk pertukaran pandangan politik. Diskusi informal antara pejabat Indonesia dan perwakilan Iran menyentuh isu-isu seperti sanksi ekonomi, keamanan regional, serta peran Indonesia dalam mediasi konflik Timur Tengah. Para ahli politik Indonesia menilai bahwa langkah ini dapat meningkatkan peran Jakarta sebagai negara yang aktif dalam diplomasi multilateral.
Rangkaian Acara Tambahan
Selain tahlilan harian, ICC Jakarta menyelenggarakan seminar singkat mengenai sejarah politik Iran dan kontribusi Khamenei terhadap revolusi Islam. Seminar ini dihadiri oleh akademisi dari Universitas Indonesia, LIPI, serta pakar hubungan internasional dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam Indonesia (LIPII). Topik yang dibahas meliputi:
- Pengaruh kebijakan Khamenei terhadap hubungan Iran‑AS.
- Dinamika politik internal Iran pasca‑Khamenei.
- Peran Indonesia dalam mediasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Semua sesi direkam dan akan dipublikasikan secara terbuka di kanal YouTube Kementerian Luar Negeri Indonesia, memperluas jangkauan informasi bagi publik internasional.
Acara tahlilan tujuh hari di ICC Jakarta diharapkan berakhir pada Minggu 11 Maret 2026 dengan doa penutup bersama. Meskipun prosesi pemakaman resmi Ayatollah Khamenei masih belum dijadwalkan secara pasti, pertemuan ini menegaskan komitmen Indonesia untuk memberikan dukungan moral serta memfasilitasi dialog damai antara pihak‑pihak yang terlibat dalam konflik.
Dengan menggabungkan elemen keagamaan, diplomasi, dan edukasi, tahlilan di ICC Jakarta mencerminkan semangat persaudaraan umat Islam serta peran strategis Indonesia dalam menjaga stabilitas kawasan. Diharapkan, momentum ini dapat menjadi batu loncatan bagi upaya perdamaian yang lebih luas di wilayah yang tengah dilanda ketegangan.










