Project Seru Penuh Kejutan

Sungkem Lebaran dalam Bahasa Jawa: Tradisi Maaf yang Menggugah Hati

March 27, 2026 • 0 Views
Sungkem Lebaran dalam Bahasa Jawa: Tradisi Maaf yang Menggugah Hati
Sungkem Lebaran dalam Bahasa Jawa: Tradisi Maaf yang Menggugah Hati

PSPK – 27 Maret 2026 | Menjelang akhir Ramadhan, ritual sungkum Lebaran kembali mengisi rumah-rumah Jawa dengan nuansa kebersamaan dan pengampunan. Tradisi ini, yang mengharuskan anak-anak dan anggota keluarga muda menundukkan kepala sambil memegang kedua telapak tangan orang tua, menjadi momen penting dalam rangkaian acara Halal Bihalal. Meskipun tampak sederhana, sungkum menyimpan makna religius dan budaya yang mendalam, sekaligus memperkaya perayaan Idul Fitri dengan nilai-nilai kearifan lokal.

Asal‑Usul dan Makna Sungkum

Sungkum berasal dari bahasa Jawa “sungkeman”, yang berarti menundukkan kepala sebagai tanda hormat dan permohonan maaf. Praktik ini sudah ada sejak zaman kerajaan Jawa, namun mendapat penekanan khusus dalam konteks Lebaran, ketika keluarga berkumpul untuk saling memaafkan setelah sebulan berpuasa.

Pengucapan sungkum biasanya diiringi dengan doa dan ikrar dalam bahasa Jawa yang sopan. Contohnya, dalam ikrar Halal Bihalal yang banyak dipakai, terdapat kalimat: “Sepindah Dumateng Simbah/Bp/ibu/pakde/bude ngaturaken Sungkem Pangabekti Kawula,” yang mengartikan permohonan maaf dan penghormatan kepada orang yang lebih tua.

Struktur Ikrar Halal Bihalal Berbahasa Jawa

Ikrar ini terdiri dari beberapa bagian yang disusun secara rapi, mencakup salam pembuka, permohonan maaf, dan doa penutup. Berikut contoh singkat urutan ikrar yang sering dibacakan:

  • Salam pembuka: “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”.
  • Permohonan maaf kepada seluruh keluarga: “Kanthi nyuwun Ridhoning Allah SWT, Kito sedoyo keluarga … ngaturaken pangapunten”.
  • Doa memohon keberkahan dan ampunan: “Mugi-mugi Allah ngijabahi lan paring pangapunten dateng kito sami”.

Setiap poin diucapkan dengan intonasi lembut, mempertegas kesungguhan hati yang ingin menghapus dendam atau kesalahan yang terjadi selama setahun terakhir.

Hubungan Sungkum dengan Tradisi Lebaran Ketupat

Sementara sungkum menekankan pada permohonan maaf secara pribadi, tradisi Lebaran Ketupat yang populer di Jawa menambah dimensi sosial dan kuliner pada perayaan. Lebaran Ketupat, yang dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga, melibatkan pembuatan ketupat sebagai simbol penyempurnaan ibadah Syawal. Pada hari ketujuh atau kedelapan setelah Idul Fitri, masyarakat berkumpul untuk makan bersama, memperkuat ikatan sosial yang telah dibina melalui sungkum dan ikrar.

Kedua tradisi ini saling melengkapi: sungkum mengikat generasi muda dengan orang tua melalui rasa hormat, sementara Lebaran Ketupat mengikat seluruh komunitas melalui kebersamaan makan. Kombinasi keduanya menciptakan atmosfer yang hangat, penuh harapan, dan menegaskan nilai-nilai keagamaan serta kebudayaan Jawa.

Praktik Sungkum di Era Modern

Di era digital, sungkum tetap relevan meski bentuknya kadang disesuaikan. Banyak keluarga yang menyiapkan video rekaman sungkum untuk anggota keluarga yang berada jauh, sehingga tetap dapat menyampaikan permohonan maaf secara virtual. Namun, nilai inti tetap sama: rasa hormat, kerendahan hati, dan keinginan untuk memperbaiki hubungan.

Beberapa organisasi komunitas dan kantor juga mengadopsi format sungkum dalam acara Halal Bihalal mereka. Ikrar yang diucapkan tidak hanya terbatas pada keluarga, melainkan meluas ke rekan kerja, tetangga, dan warga RT, memperluas jaringan silaturahmi di lingkungan sosial yang lebih luas.

Kesimpulan

Sungkum Lebaran dalam bahasa Jawa bukan sekadar ritual formal, melainkan sebuah sarana spiritual yang menegaskan kembali nilai persaudaraan, hormat, dan pengampunan. Dipadukan dengan tradisi Lebaran Ketupat, sungkum memperkaya perayaan Idul Fitri dengan kedalaman budaya yang terus dipertahankan oleh generasi muda. Melalui ikrar yang terstruktur dan doa yang tulus, masyarakat Jawa menegakkan semangat kebersamaan yang menjadi inti dari perayaan Lebaran, sekaligus menjaga warisan budaya yang lestari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *