PSPK – 01 Maret 2026 | Warga Iran dan dunia internasional menyaksikan sebuah babak baru dalam sejarah geopolitik Timur Tengah. Pada akhir Februari 2026, setelah serangkaian serangan udara gabungan antara Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan infrastruktur militer Iran, Pangeran Mahkota Iran yang berada di pengasingan, Reza Pahlavi, mengeluarkan pernyataan video yang menegaskan bahwa “kemenangan akhir” sudah berada dalam jangkauan.
Serangan Amerika Serikat‑Israel dan Dampaknya
Serangan tersebut, yang dilaporkan menimbulkan ledakan besar di pusat kota Tehran serta kota‑kota utama lain, ditujukan pada apa yang Pahlavi sebut sebagai “mesin pembunuhan” dan aparat represi Republik Islam. Ia menegaskan bahwa bantuan yang dijanjikan Presiden Amerika Serikat telah tiba, namun kemenangan sejati akan diraih oleh rakyat Iran sendiri.
Kematian Ayatollah Khamenei: Titik Balik?
Tak lama setelah serangan, kabar mengejutkan muncul: Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Republik Islam berusia 86 tahun, dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Reza Pahlavi memanfaatkan momen ini untuk menyatakan bahwa Khamenei telah “dihapuskan dari halaman sejarah” dan bahwa kematiannya menandai keruntuhan fungsional rezim teokratis.
Dalam pernyataan panjangnya, Pahlavi menamakan Khamenei sebagai “despott berdarah” yang telah membunuh puluhan ribu warga Iran. Menurutnya, penghapusan figur sentral ini membuka jalan bagi transisi yang lebih stabil menuju demokrasi sekuler, meskipun ia mengingatkan bahwa proses tersebut tidak akan selesai dalam semalam.
Ajakan kepada Militer dan Aparat Keamanan
Pahlavi secara langsung menargetkan militer, kepolisian, dan Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC). Ia menekankan bahwa sumpah mereka adalah untuk melindungi bangsa Iran, bukan rezim yang kini berada di ambang kejatuhan. “Ini adalah kesempatan terakhir kalian untuk bergabung dengan rakyat, membantu memastikan transisi yang damai, dan membangun masa depan yang bebas dan makmur,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa setiap upaya rezim untuk mengangkat penerus Khamenei akan gagal, karena tidak akan memiliki legitimasi atau daya tahan. Dengan kata lain, ia memanggil semua elemen keamanan untuk beralih sisi sebelum kekacauan meluas.
Strategi Mobilisasi Rakyat
Meski mengimbau warga Iran untuk tetap berada di rumah demi keamanan, Pahlavi menyiapkan panggilan aksi massal di jalanan. Ia menekankan pentingnya kehadiran fisik rakyat pada saat yang tepat, yang akan ia umumkan kemudian. “Waktu untuk kehadiran besar dan decisif di jalanan sangat dekat,” katanya.
Untuk mengantisipasi pemutusan jaringan internet dan satelit, Pahlavi menjanjikan komunikasi melalui gelombang radio, memastikan aliran informasi tetap terjaga.
Reaksi Internasional dan Dukungan Amerika
Presiden Donald Trump, yang sebelumnya mengumumkan operasi militer tersebut, menyatakan dukungannya kepada rakyat Iran. Ia menegaskan bahwa Amerika bersedia membantu menyingkirkan rezim otoriter dan mendukung transisi menuju kebebasan.
Komunitas diaspora Iran di luar negeri, terutama di Washington, menyambut baik pernyataan Pahlavi sebagai simbol harapan. Namun, kritik tetap ada, terutama dari kelompok aktivis dalam negeri yang masih meragukan peran monarki dalam proses demokratisasi.
Harapan dan Tantangan Ke Depan
Kematian Khamenei memberikan rasa lega bagi keluarga korban pembantaian politik selama tiga dekade terakhir. Pahlavi menyebut peristiwa ini sebagai “obat bagi hati yang terbakar” bagi para keluarga yang berduka.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa revolusi belum selesai. “Ini mungkin awal perayaan nasional besar, tetapi bukan akhir perjalanan,” tegasnya. Ia menutup dengan ajakan untuk tetap waspada, bersatu, dan siap menempuh jalan menuju Iran yang bebas.
Dengan tekanan internasional yang meningkat, kehadiran militer asing, serta kekosongan kepemimpinan di dalam negeri, Iran berada di persimpangan kritis. Apakah Reza Pahlavi dapat mengubah arus sejarah menjadi demokrasi yang inklusif atau justru menimbulkan konflik lebih lanjut, masih menjadi pertanyaan besar yang menanti jawaban.










