Project Seru Penuh Kejutan

Polisi Bersorban Mengawal Demo Pro-Palestina di Monas: Tuntutan Keluar dari BoP Memicu Kerumunan Ribuan

March 8, 2026 • 0 Views
Polisi Bersorban Mengawal Demo Pro-Palestina di Monas: Tuntutan Keluar dari BoP Memicu Kerumunan Ribuan
Polisi Bersorban Mengawal Demo Pro-Palestina di Monas: Tuntutan Keluar dari BoP Memicu Kerumunan Ribuan

PSPK – 08 Maret 2026 | Sabtu, 7 Maret 2026 sore, kawasan persimpangan Monas di depan BSI Tower, Jakarta Pusat, menjadi saksi aksi demonstrasi besar-besaran yang menuntut pemerintah Indonesia mengakhiri keterlibatannya dalam Board of Peace (BoP). Demonstrasi yang diprakarsai oleh koalisi masyarakat sipil dan organisasi mahasiswa pro-Palestina ini menarik ribuan peserta, sementara aparat kepolisian hadir dengan penampilan yang tak biasa: mengenakan sorban putih serta peci, dan bagi polisi wanita, hijab putih.

Latar Belakang Demonstrasi

Sejumlah kelompok aktivis, termasuk Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS), Solidarity Justice for Palestine (SJP), serta Front Mahasiswa Nasional (FMN), menggelar aksi di lokasi strategis Monas untuk menekan pemerintah agar menarik diri dari BoP. BoP, yang dipandang oleh sebagian kalangan sebagai mekanisme diplomatik yang mendukung kebijakan luar negeri pro-Israel, menjadi sorotan utama dalam orasi dan spanduk yang dibawa massa.

Penampilan dan Pengamanan Polisi

Polisi yang bertugas di sekitar lokasi aksi tampak membentuk barikade sejak pukul 16.00 WIB. Yang paling mencolok adalah penggunaan sorban putih yang dililitkan di leher, dipadukan dengan peci tradisional. Penampilan ini dipilih untuk menegaskan netralitas dan menghormati keragaman budaya serta agama yang hadir dalam kerumunan. Sementara itu, anggota polisi wanita mengenakan hijab putih, menambah kesan kebersamaan antar aparat.

Pengamanan dilakukan secara berjenjang: satu barisan pertama menahan pergerakan massa, barisan kedua mengawasi jalur masuk-keluar, dan barisan ketiga menjaga arus lalu lintas di Jalan Medan Merdeka Selatan yang sempat melambat akibat konsentrasi demonstran.

Suasana dan Tuntutan Massa

Massa demonstran membawa beragam poster dan spanduk berisi slogan “Indonesia Keluar dari BoP” serta seruan dukungan kepada Palestina. Selama aksi, orasi bergantian dari atas panggung menampilkan narasumber akademisi, aktivis, dan perwakilan mahasiswa. Yel-yel yang terdengar menggelegar menegaskan semangat anti-Israel, anti-Amerika, serta solidaritas kepada Palestina: “Palestina Palestina, merdeka merdeka! Israel Israel, hancurkan hancurkan! Amerika Amerika, musnahkan musnahkan!”

Beberapa peserta juga menyalakan lilin sebagai simbol perdamaian, sementara foto-dokumentasi diambil oleh wartawan kumparan dan media lokal lainnya.

Dampak Lalu Lintas dan Respons Publik

Walaupun demonstrasi memusatkan ribuan orang di satu titik, aparat berhasil menjaga kelancaran arus lalu lintas. Kendaraan melanjutkan perjalanannya dengan sedikit penurunan kecepatan, dan tidak terjadi kemacetan parah. Warga sekitar melaporkan gangguan suara, namun mayoritas menganggap aksi sebagai bentuk kebebasan berpendapat yang sah.

Analisis dan Implikasi Politik

Aksi ini menandai salah satu demonstrasi terbesar yang secara eksplisit menuntut Indonesia keluar dari BoP. Jika tuntutan ini mendapatkan dukungan luas, pemerintah diperkirakan akan menghadapi tekanan politik baik di dalam negeri maupun dalam forum internasional. Para pengamat menilai bahwa keberadaan polisi bersorban bukan sekadar simbol, melainkan upaya pemerintah untuk menampilkan sikap netral dan menjaga ketertiban dalam situasi yang berpotensi memanas.

Sejauh ini, belum ada respons resmi dari Kementerian Luar Negeri. Namun, pernyataan sebelumnya menunjukkan komitmen Indonesia untuk tetap berperan aktif dalam diplomasi perdamaian, meski harus menyeimbangkan aspirasi domestik yang kuat terhadap konflik Palestina-Israel.

Demonstrasi di Monas ini mempertegas bahwa isu Palestina masih menjadi pemicu utama mobilisasi massa di Indonesia. Keberadaan aparat yang mengenakan sorban dan hijab juga mencerminkan upaya menyesuaikan keamanan dengan sensitivitas agama dan budaya, sebuah langkah yang kemungkinan akan menjadi contoh bagi penanganan aksi serupa di masa depan.

Dengan dinamika politik yang terus berubah, aksi ini dapat menjadi titik tolak bagi debat publik mengenai peran Indonesia di panggung internasional, khususnya dalam kebijakan yang berkaitan dengan konflik Timur Tengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *