PSPK – 12 Maret 2026 | Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, umat Islam dianjurkan meningkatkan intensitas ibadah, salah satunya melalui i’tikaf, praktik berdiam di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Dalil Al-Qur’an
Surat Al-Baqarah ayat 187 menyebutkan larangan tertentu bagi yang sedang i’tikaf, sekaligus menegaskan keberkahan berdiam di dalam masjid pada malam-malam tersebut.
Dalil Hadis
Rasulullah SAW melaksanakan i’tikaf selama sepuluh malam terakhir Ramadhan hingga wafatnya, dan para istri beliau melanjutkannya setelahnya. Hadis ini menjadi landasan kuat bagi umat untuk meneladani kebiasaan tersebut.
Bacaan Niat I’tikaf
Berbagai mazhab menyusun formulasi niat yang dapat dibaca di dalam hati atau diucapkan secara lisan. Dua contoh umum adalah:
- “Nawaitu an a'takifa fī hādhāl masjidi mā dummu fīhi” (Saya berniat i’tikaf di masjid ini selama saya berada di dalamnya).
- “Nawaitul i'tkāfa fī hādhāl masjidi lillāhi ta'āla” (Saya berniat i’tikaf di masjid ini karena Allah Ta'ala).
Syarat dan Rukun I’tikaf
- Niat yang tulus, diucapkan pada awal masuk masjid.
- Berdiam di dalam masjid, minimal melewati jeda shalat (tuma'ninah).
- Lokasi berada di masjid, idealnya masjid Jami' yang biasa dipakai untuk shalat Jumat.
- Berstatus Muslim, berakal sehat, dan dalam keadaan suci dari hadas besar.
Langkah-Langkah Pelaksanaan
- Menyiapkan diri dengan wudhu atau mandi besar sebelum memasuki masjid.
- Masuk masjid dengan kaki kanan sambil membaca doa masuk.
- Membaca niat i’tikaf di dalam hati atau secara lisan.
- Menunaikan shalat tahiyatul masjid sebanyak dua rakaat sebagai pembuka.
- Memperbanyak amal selama i’tikaf, antara lain shalat sunnah (tarawih, tahajud, witir, hajat, taubat), tadarus Al-Qur'an, dzikir, istighfar, dan shalawat.
- Menyisipkan doa khusus Lailatul Qadar, contohnya: “Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni”.
- Menjauhi larangan: hubungan suami istri, keluar masjid tanpa uzur syar'i, bergosip, atau terlibat dengan aktivitas duniawi seperti gawai.
Keutamaan I’tikaf di Bulan Ramadhan
- Sarana Menjemput Lailatul Qadar – Berdiam di masjid meningkatkan peluang bertemu malam yang pahalanya setara seribu bulan.
- Menjaga Diri dari Maksiat – Lingkungan masjid membantu menghindarkan diri dari perbuatan yang dapat merusak pahala puasa.
- Mendatangkan Ketenangan Batin – I’tikaf menjadi waktu muhasabah diri, menyucikan jiwa, dan menajamkan fokus kepada Allah.
- Menghidupkan Sunnah Nabi – Praktik ini merupakan sunnah muakkadah yang terus dijaga sejak masa Rasulullah hingga kini.
Dengan memahami niat, tata cara, serta keutamaannya, umat dapat memaksimalkan ibadah i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan 2026, berharap memperoleh keberkahan serta ampunan yang luas.












