PSPK – 30 Maret 2026 | Ali Larijani, mantan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, tewas dalam serangkaian serangan udara yang menargetkan infrastruktur strategis Iran pada 18 Maret 2026. Kematian tokoh senior ini menambah daftar korban elit politik Iran yang terbunuh dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan sekutu-sekutunya di wilayah Barat Asia.
Upacara pemakaman Larijani di Tehran menjadi sorotan internasional, menampilkan ribuan pejalan kaki yang memadati jalan‑jalan utama kota. Foto-foto funeral yang diabadikan oleh fotografer MAJID SAEEDI menampilkan keluarga, pejabat tinggi, serta warga yang menyalakan lilin sebagai tanda penghormatan. Kematian Larijani, bersama dengan sejumlah pejabat lain yang menjadi sasaran serangan, menandai perubahan signifikan dalam struktur kepemimpinan Iran.
Latar Belakang Kematian
Serangan yang menewaskan Larijani terjadi bersamaan dengan pengeboman pada fasilitas energi dan instalasi militer di beberapa wilayah Iran. Menurut laporan resmi, serangan tersebut dilancarkan oleh koalisi yang dipimpin Amerika Serikat dan Israel, yang menargetkan pusat-pusat produksi bahan nuklir serta fasilitas penting lainnya. Sumber militer Iran menyebut bahwa serangan tersebut menimbulkan kerusakan parah pada instalasi pengolahan air berat di Khondab serta instalasi petrokimia di Tabriz.
Selain Larijani, sejumlah pejabat tinggi lainnya juga menjadi korban, memperkuat persepsi bahwa kepemimpinan Iran mengalami “regime change” secara tidak resmi. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 30 Maret 2026 menegaskan hal tersebut, menyebut bahwa “Iran telah mengalami perubahan rezim yang sangat wajar” setelah serangkaian kematian di kalangan elitnya.
Pernyataan Trump dan Reaksi Internasional
Dalam konferensi pers di atas pesawat Air Force One, Trump menyoroti “skala kehilangan” di kalangan elite Iran sebagai bukti bahwa struktur kekuasaan Iran telah runtuh. Ia menambahkan bahwa kepemimpinan baru yang muncul, termasuk figur-figur seperti Mojtaba Khamenei, kini lebih mudah dihadapi oleh Amerika Serikat. Pernyataan ini memicu reaksi beragam di panggung internasional. Beberapa analis menilai bahwa komentar Trump bersifat provokatif dan dapat memperburuk ketegangan, sementara yang lain melihatnya sebagai sinyal perubahan kebijakan luar negeri Amerika.
Di sisi lain, pejabat Iran menolak label “regime change”, menegaskan bahwa negara tetap berdaulat dan akan melanjutkan perlawanan. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan “aksi agresi tidak sah” yang akan dibalas dengan tindakan militer yang proporsional.
Analisis Christian Jambet tentang Dinamika Iran
Filsuf Prancis dan anggota Académie Française, Christian Jambet, dalam sebuah wawancara dengan Jean Birnbaum, menyoroti transformasi ideologis yang terjadi di Iran. Jambet mencatat bahwa “pemimpin sejati Iran kini adalah tentara yang berambisi menyebarkan Revolusi Islam melampaui batas negara”. Menurutnya, kematian tokoh-tokoh politik tradisional seperti Larijani mempercepat proses “degenerasi” rezim yang sebelumnya mengandalkan legitimasi religius.
Jambet menambahkan bahwa konflik yang berkepanjangan dapat memperkuat elemen militer dalam politik Iran, menggeser fokus dari diplomasi ke strategi pertahanan yang lebih agresif. Pandangan ini sejalan dengan laporan terbaru yang menyebutkan bahwa Iran berjanji akan melakukan serangan balasan terhadap kediaman komandan-komandan militer Amerika dan Israel di wilayah tersebut.
Implikasi bagi Konflik Barat Asia
Kematian Larijani dan pejabat senior lainnya meningkatkan risiko eskalasi lebih lanjut. Pakistan, yang baru saja menawarkan diri menjadi tuan rumah pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran, kini menghadapi tantangan diplomatik yang lebih kompleks. Sementara itu, Israel mengklaim berhasil menargetkan fasilitas produksi rudal balistik di Tehran, menambah ketegangan di antara kedua negara.
Keadaan geopolitik di wilayah tersebut semakin rumit dengan keterlibatan berbagai pihak: Amerika Serikat, Israel, Rusia, serta aktor regional seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Semua pihak berusaha memanfaatkan kekosongan kekuasaan yang muncul pasca kematian tokoh-tokoh kunci untuk memperkuat posisi masing‑masing.
Prospek Politik Iran Pasca Larijani
Dengan hilangnya figur-figur senior, struktur kekuasaan Iran diperkirakan akan mengalami restrukturisasi internal. Beberapa analis memperkirakan bahwa “kelompok militer” akan mengambil alih peran strategis, sementara elemen reformis yang masih tersisa berupaya mempertahankan dialog internasional. Namun, tekanan eksternal yang terus meningkat dapat memaksa pemerintah Iran untuk mengambil kebijakan yang lebih keras, termasuk memperkuat pertahanan nuklir dan meningkatkan operasi intelijen.
Secara keseluruhan, kematian Ali Larijani menandai titik balik dalam dinamika politik Iran. Baik dalam konteks domestik maupun internasional, peristiwa ini menegaskan betapa rapuhnya keseimbangan kekuasaan di tengah konflik yang terus berkecamuk. Pengembangan kebijakan luar negeri Iran ke depan akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana elit militer dan politik menavigasi tantangan yang muncul, serta respons komunitas internasional terhadap aksi‑aksi militer yang terus berlanjut.










