PSPK – 14 Maret 2026 | Ketegangan antara Israel dan Iran kembali menjadi sorotan utama media internasional, namun cara membaca dinamika tersebut belum tentu harus melalui lensa politik konvensional semata. Sebagai jurnalis yang menelusuri jejak sejarah Islam, saya menemukan bahwa Surah Ar‑Rum (30) menawarkan kerangka berpikir yang relevan untuk menilai dampak strategis konflik ini, terutama setelah pengakuan terbaru Israel bahwa sistem pertahanan “Iron Beam” mengalami kegagalan melawan rudal dan drone Hezbollah.
Surah Ar‑Rum dan Nubuat Keseimbangan Kekuasaan
Surah Ar‑Rum mengisahkan masa ketika dua imperium besar—Bizantium (Romawi Timur) dan Sasanid (Persia)—berperang sengit pada abad ke‑7. Pada titik tertentu, Persia tampak unggul, merebut wilayah‑wilayah penting Romawi. Namun ayat‑ayat suci menegaskan bahwa Romawi akan bangkit kembali dan meraih kemenangan dalam beberapa tahun mendatang, sehingga umat beriman akan bersukacita.
Keunikan narasi ini terletak pada fakta bahwa kemenangan Romawi tidak dipandang dari sudut pandang ideologi atau afiliasi agama, melainkan dari pertimbangan geopolitik: dua kekuatan besar saling menahan satu sama lain, menciptakan ruang bagi munculnya kekuatan baru di kawasan Arab.
Paralelisme dengan Konflik Israel–Iran
Jika kita memetakan pola tersebut ke situasi kontemporer, Israel dan Iran berperan sebagai dua kutub yang saling bersaing untuk menguasai pengaruh di Timur Tengah. Kedua negara memiliki kemampuan militer yang canggih, namun keduanya juga terjebak dalam perang proksi yang melibatkan kelompok‑kelompok non‑negara seperti Hezbollah di Lebanon dan milisi‑milisi pro‑Iran di Suriah dan Irak.
Seperti pada masa Bizantium‑Sasanid, keunggulan satu pihak dapat berbalik menjadi kerentanan jika tidak diimbangi oleh kekuatan lawan. Kegagalan Iron Beam—sistem pertahanan udara berteknologi tinggi yang dirancang untuk menetralkan drone dan proyektil kecil—menunjukkan bahwa bahkan negara dengan anggaran pertahanan terbesar sekalipun dapat mengalami celah teknis yang signifikan.
Iron Beam: Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Menurut laporan militer terbaru, Iron Beam gagal menghentikan serangan drone dan rudal yang diluncurkan oleh unit Hezbollah dari wilayah selatan Lebanon. Sistem yang awalnya dipuji karena kecepatan respon dan akurasi tembak kini harus ditinjau kembali, mengingat kegagalan tersebut memungkinkan Hezbollah menembus pertahanan udara Israel dan meluncurkan serangan balasan.
Kegagalan ini bukan sekadar isu teknis; ia menjadi sinyal bahwa keseimbangan militer di wilayah tersebut dapat berubah secara tiba‑tiba. Iran, sebagai pendukung utama Hezbollah, dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisinya, sementara sekutu‑sekutu Israel harus menyiapkan strategi alternatif.
Pelajaran Strategis dari Surah Ar‑Rum
- Ketergantungan pada satu sistem pertahanan dapat menjadi titik lemah yang dimanfaatkan lawan.
- Kemenangan atau keunggulan satu pihak tidak selalu berarti dominasi mutlak; konflik berkelanjutan sering kali menciptakan ruang bagi aktor lain.
- Pentingnya menilai konflik tidak hanya dari identitas agama atau ideologi, melainkan dari implikasi geopolitik jangka panjang.
- Umat Islam dapat mengambil hikmah bahwa keseimbangan kekuasaan memberi peluang bagi dakwah dan perkembangan peradaban, bukan sekadar menunggu satu pihak menang.
Implikasi bagi Kebijakan Muslim
Para pemimpin dan analis Muslim perlu mengadopsi pendekatan yang lebih terukur, menghindari retorika emosional yang hanya menyoroti siapa yang “lebih salah”. Sebagaimana Surah Ar‑Rum mengajarkan, memahami dinamika kekuatan global membantu umat Islam menyiapkan diri menghadapi perubahan yang cepat, baik dalam arena politik maupun teknologi militer.
Dengan menelaah kegagalan Iron Beam, negara‑negara Muslim dapat menilai kembali kebijakan pertahanan mereka, memperkuat kerja sama regional, dan memanfaatkan setiap celah yang muncul untuk memperkuat posisi tawar di meja diplomatik.
Dalam konteks yang lebih luas, konflik Israel‑Iran yang sedang berlangsung mungkin akan berakhir tidak dengan kemenangan total salah satu pihak, melainkan dengan sebuah “keseimbangan baru” yang membuka peluang bagi aktor‑aktor regional untuk berperan lebih signifikan.
Sejarah mengajarkan bahwa ketika dua kekuatan besar saling melemahkan, wilayah yang berada di antara keduanya—seperti Semenanjung Arab—akan menjadi arena bagi transformasi sosial, politik, dan keagamaan. Surah Ar‑Rum menjadi pengingat bahwa dinamika ini tidak bersifat kebetulan, melainkan bagian dari pola yang dapat dipelajari dan dimanfaatkan.










