PSPK – 05 Maret 2026 | Perang antara Amerika Serikat‑Israel dan Iran yang memuncak pada awal Maret 2026 tidak hanya mengubah peta geopolitik Timur Tengah, melainkan juga menimbulkan gelombang guncangan ekonomi‑politik di Indonesia. Dari lonjakan harga bahan bakar hingga perubahan perilaku pemudik Lebaran, dampak konflik ini mulai terasa di seluruh lapisan masyarakat.
Dampak Langsung pada Harga BBM dan Nilai Tukar Rupiah
Menurut pakar transportasi Ki Darmaningtyas, kenaikan signifikan harga BBM akan memicu depresiasi rupiah karena pemerintah harus meningkatkan pembelian dolar untuk impor BBM. “Jika harga BBM naik, nilai rupiah akan jeblok,” ujar Darmaningtyas pada Kamis (5/3/2026). Kenaikan ini berpotensi menimbulkan inflasi pada kebutuhan pokok, mempersempit daya beli warga, terutama di kalangan kelas menengah yang telah tertekan sejak pandemi.
Potensi Penurunan Pemudik Lebaran 2026
Biaya transportasi yang melambung, ditambah tarif tol tinggi, membuat banyak pemudik mempertimbangkan kembali rencana mudik. Darmaningtyas menegaskan, “Ketika ongkos transportasi mahal, warga akan berpikir ulang untuk mudik, karena dampak kenaikan harga BBM itu cukup luas, termasuk kenaikan harga semua barang.” Hal ini tercermin dalam survei lapangan yang menunjukkan penurunan minat mudik di antara pengguna kendaraan pribadi, baik roda dua maupun roda empat.
Selain itu, faktor keamanan jalan di daerah asal mudik menjadi sorotan. Banyak jalan rusak dan berlubang, terutama pada musim hujan, meningkatkan risiko kecelakaan. Pakar tersebut menyerukan perbaikan infrastruktur daerah dan kesiapan aparat kepolisian, Dinas Perhubungan, serta Satpol PP untuk mengamankan arus mudik.
Implikasi Ekonomi Makro: Energi, Defisit APBN, dan Inflasi
Analisis ekonomi politik oleh Ichsanudin Noorsy menyoroti tekanan struktural yang semakin dalam. Indonesia mengimpor energi senilai US$32,76 miliar pada 2025; konflik yang mengganggu pasokan minyak melalui Selat Hormuz dapat menaikkan harga minyak dunia hingga US$100 per barel. Dampaknya meliputi:
- Peningkatan beban subsidi energi dalam APBN yang sudah defisit 2,92% dari PDB pada 2025.
- Penurunan nilai tukar rupiah akibat kebutuhan dolar yang meningkat.
- Lonjakan inflasi karena kenaikan harga barang impor.
Untuk mengurangi ketergantungan, Kementerian ESDM berencana mengalihkan impor minyak mentah ke negara selain Timur Tengah, termasuk Amerika Serikat, serta meningkatkan cadangan LPG dari sumber alternatif.
Diplomasi Indonesia di Tengah Konflik
Walaupun Indonesia tidak terlibat militer, pemerintah ditekankan untuk tidak tampil seakan “piawai” dalam negosiasi internasional. Seorang jenderal Israel dalam wawancara mengingatkan Indonesia agar tidak terjerat konflik, sementara Menteri Luar Negeri menekankan pentingnya melindungi WNI di wilayah rawan, seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, melalui portal “Peduli WNI”.
Para WNI di luar negeri melaporkan kondisi yang beragam: sebagian merasa aman, namun tetap waspada terhadap potensi eskalasi, seperti pengeboman Kedutaan AS di Riyadh yang menambah ketegangan.
Dampak pada Sektor Bisnis dan Konsumen
Konflik juga menimpa industri ritel. Toko Adidas di Tel Aviv mengalami serangan bom, meski tidak ada korban jiwa. CEO Adidas mengakui penutupan toko dan penundaan pengiriman dapat menurunkan penjualan regional. Sektor barang mewah lainnya, termasuk LVMH, Kering, dan Burberry, mencatat penurunan nilai saham hingga 10% karena ketidakpastian pasar global.
Kenaikan biaya energi berimbas pada produksi tekstil, terutama serat sintetis yang berbasis hidrokarbon, sehingga harga pakaian diproyeksikan naik. Konsumen Indonesia mulai mengalihkan tabungan ke emas atau mata uang asing, serta menahan pengeluaran non‑esensial menjelang Lebaran.
Respon Pemerintah dan Kebijakan Mitigasi
Pemerintah menyiapkan skenario fiskal darurat, termasuk evaluasi program belanja besar dan optimalisasi penggunaan energi domestik melalui biodiesel. Stok BBM, minyak mentah, dan LPG dinyatakan mencukupi selama 21‑23 hari, dengan rencana pembangunan fasilitas penyimpanan tambahan di Sumatra untuk memperpanjangan kapasitas menjadi tiga bulan.
Selain itu, pemerintah mendorong efisiensi mobilitas ASN di Jabodetabek dan menilai bahwa mobilitas sektor swasta tidak akan meningkat signifikan karena penurunan aktivitas bisnis.
Secara keseluruhan, konflik antara AS‑Israel dan Iran menimbulkan efek domino yang memengaruhi harga energi, stabilitas ekonomi, perilaku konsumen, serta kebijakan publik di Indonesia. Meskipun pemerintah telah melakukan langkah mitigasi, ketidakpastian geopolitik tetap menjadi faktor risiko utama bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026.










