PSPK – 11 Maret 2026 | Jakarta, 11 Maret 2026 – Sebuah tragedi menggemparkan dunia maritim terjadi pada dini hari 6 Maret 2026, ketika kapal tugboat Musaffah 2 berbendera Uni Emirat Arab (UEA) meledak di Selat Hormuz, jalur pelayaran paling strategis di dunia. Ledakan tersebut menimbulkan kebakaran hebat dan mengakibatkan kapal tenggelam di perairan antara UEA dan Oman. Dari tujuh awak kapal, tiga anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) masih belum ditemukan, memicu aksi pencarian intensif yang melibatkan pemerintah Indonesia, kedutaan besar, serta otoritas di UEA dan Oman.
Rincian Insiden dan Korban
Menurut keterangan Plt. Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Heni Hamidah, ledakan terjadi sekitar pukul 02.00 waktu setempat. Saksi mata melaporkan bahwa Musaffah 2 sedang mempersiapkan penarikan kapal kontainer Safen Prestige yang mengalami kerusakan ketika ledakan tiba-tiba mengguncang kapal, menyebabkan api meluas dan akhirnya kapal tenggelam. Dari total tujuh awak, empat di antaranya WNI, satu di antaranya teknisi Indonesia yang berada di kapal kontainer, serta tiga awak asing (India dan Filipina).
Seorang ABK Indonesia selamat namun mengalami luka bakar parah dan dirawat di Rumah Sakit Khasab, Oman. Sementara itu, tiga ABK Indonesia lainnya, termasuk dua asal Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan – Kapten Miswar Maturasi dan Sirajuddin – masih hilang. Keluarga korban di Luwu menunggu kabar dengan cemas, mengingat komunikasi terakhir korban sebelum insiden hanya berupa pesan singkat yang belum dibalas.
Reaksi Politik dan Tuntutan PKB
Iman Sukri, anggota Komisi I DPR Fraksi PKB, menuntut Kementerian Luar Negeri (Kemlu) untuk memaksimalkan upaya pencarian tiga ABK Indonesia yang belum ditemukan. “Kementerian Luar Negeri harus bekerja keras dan memaksimalkan pencarian terhadap tiga ABK WNI yang masih hilang. Pemerintah perlu memastikan seluruh upaya penyelamatan dilakukan secara optimal,” ujar Iman dalam konferensi pers Selasa (10/3/2026).
Iman menekankan pentingnya koordinasi lintas negara, khususnya dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Abu Dhabi (UEA) dan Muscat (Oman). Ia menambahkan, “Kemlu harus terus berkoordinasi dengan KBRI Abu Dhabi dan KBRI Muscat, serta menjalin komunikasi dengan otoritas setempat dan negara‑negara terkait untuk memperluas pencarian.”
Upaya Pencarian dan Koordinasi Internasional
Kementerian Luar Negeri RI melalui Heni Hamidah menyatakan bahwa perwakilan RI di wilayah Timur Tengah telah berkoordinasi dengan otoritas UEA, Oman, serta perusahaan Safeen Prestige yang menjadi pemilik kapal kontainer yang akan ditarik. Pencarian difokuskan pada perairan Selat Hormuz, dengan dukungan kapal patroli dan tim SAR dari kedua negara.
- Koordinasi intensif antara KBRI Abu Dhabi dan KBRI Muscat.
- Pencarian menggunakan kapal patroli laut dan helikopter SAR dari UEA dan Oman.
- Keterlibatan perusahaan pelayaran Safeen Prestige dalam menyediakan data teknis kapal.
Dubes RI untuk UEA, Yudha Nugraha, menunggu hasil resmi penyelidikan mengenai penyebab ledakan, yang masih diduga berupa rudal atau bom, meskipun belum ada konfirmasi resmi. Otoritas di UEA dan Oman telah membuka penyelidikan bersama, menilai kemungkinan keterlibatan konflik regional mengingat lokasi kejadian berada di jalur pelayaran yang sangat strategis.
Reaksi Keluarga dan Masyarakat
Keluarga Miswar Maturasi mengungkapkan keprihatinan mereka melalui media sosial, menyebutkan bahwa pesan terakhir Miswar sebelum insiden hanya berisi konfirmasi keberangkatan kapal. Istri Sirajuddin, Sri Dwi Aisyah, menyatakan bahwa suaminya bekerja sebagai engineer kapal dan memiliki pengalaman lebih dari dua dekade di industri pelayaran.
Berbagai komunitas pelaut di Indonesia menyerukan agar pemerintah memperkuat perlindungan WNI di luar negeri, terutama di wilayah rawan konflik seperti Selat Hormuz. Mereka menekankan pentingnya perjanjian bilateral yang memfasilitasi evakuasi cepat dan penanganan medis bagi WNI yang terjebak dalam insiden serupa.
Situasi Terkini dan Harapan
Sampai saat penulisan artikel ini, pencarian terhadap tiga ABK Indonesia masih berlangsung. Otoritas UEA dan Oman terus memantau pergerakan arus laut serta menggunakan sonar modern untuk mendeteksi sisa-sisa kapal yang tenggelam. Pemerintah Indonesia berjanji akan terus memberi pembaruan secara berkala kepada keluarga korban dan publik.
Semoga upaya pencarian segera membuahkan hasil dan ketiga ABK Indonesia dapat kembali selamat ke pangkuan keluarga mereka.












