PSPK – 08 Mei 2026 | Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan paling penting di dunia, kembali menjadi sorotan setelah kapal Denmark berhasil lolos dari wilayah tersebut dengan pengawalan Angkatan Laut AS. Ini terjadi di tengah ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurut Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO) Arsenio Dominguez, sekitar 1.500 kapal dengan 20.000 awak kapal terjebak di kawasan Teluk akibat blokade Iran di Selat Hormuz. Situasi ini memicu lonjakan signifikan pada harga hidrokarbon global karena sekitar seperlima dari total minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz sebelum konflik pecah.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengumumkan operasi angkatan laut untuk mengawal kapal-kapal yang terjebak dan memaksa pembukaan kembali Selat Hormuz, namun upaya tersebut dibatalkan tidak lama setelah diumumkan. Washington saat ini masih menunggu tanggapan Iran atas proposal untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
Bentrokan terbaru antara AS dan Iran terjadi di Selat Hormuz, dengan Washington mengeklaim serangannya dilakukan sebagai balasan atas serangan Iran terhadap kapal perang AS. Sementara itu, Teheran menuduh militer Amerika lebih dulu menyerang kapal tanker minyak Iran dan wilayah sipil.
Konflik di Timur Tengah yang dimulai pada 28 Februari 2026 setelah Israel dan Amerika Serikat menyerang Iran, memicu respons balasan dari Teheran di berbagai wilayah. Sekitar 10 pelaut tewas dalam lebih dari 30 serangan terhadap kapal di kawasan tersebut, dan para awak kapal yang terdampar merupakan orang-orang tidak bersalah yang terjebak dalam situasi geopolitik di luar kendali mereka.
IMO mendesak pihak-pihak terkait agar tidak mengirim kapal ke Teluk untuk sementara waktu agar jumlah korban jiwa di kalangan pelaut tidak bertambah dan kerugian ekonomi tidak makin besar. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran tentang stabilitas jalur perdagangan global dan dampaknya terhadap perekonomian dunia.
Kesimpulan dari situasi ini adalah bahwa ketegangan antara AS dan Iran di Selat Hormuz telah mencapai titik yang sangat genting, dengan konsekuensi yang signifikan bagi perdagangan global dan stabilitas regional. Upaya diplomatis untuk menyelesaikan konflik dan membuka kembali Selat Hormuz secara aman dan stabil merupakan prioritas utama untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan meminimalkan dampak pada perekonomian global.












