PSPK – 15 Maret 2026 | Menjelang akhir Ramadan 2026, umat Islam di Indonesia menanti kepastian tanggal Idulfitri 1447 H. Berbagai lembaga telah mengumumkan jadwal dan prediksi, mulai dari Sidang Isbat Kementerian Agama, hingga perhitungan ilmiah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Di sisi lain, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan tanggal yang berbeda.
Jadwal Sidang Isbat Kemenag
Sidang Isbat untuk menetapkan 1 Syawal 1447 H dijadwalkan pada hari Kamis, 19 Maret 2026, bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H. Acara akan dilaksanakan di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, mulai pukul 16.00 WIB. Prosesnya meliputi:
- Seminar Posisi Hilal: Penyajian data astronomi mengenai posisi bulan saat matahari terbenam.
- Verifikasi Laporan Rukyatulhilal: Pengumpulan laporan pengamatan langsung dari berbagai titik di seluruh Indonesia.
- Sidang Isbat: Musyawarah tertutup yang melibatkan ahli BMKG, peneliti BRIN, planetarium, observatorium, serta perwakilan ormas Islam.
- Pengumuman Resmi: Menteri Agama menyampaikan hasil keputusan melalui konferensi pers.
Prediksi ilmiah BMKG dan BRIN
Berdasarkan data pengamatan pada 19 Maret 2026, BMKG mencatat ketinggian hilal antara 0,91°‑3,13° dan elongasi geosentris 4,54°‑6,1°. Peneliti BRIN, Thomas Djamaluddin, menegaskan bahwa kriteria MABIMS (visibilitas minimal 3° dan elongasi 6,4°) belum terpenuhi. Akibatnya, Ramadan kemungkinan akan digenapkan menjadi 30 hari, sehingga Idulfitri versi pemerintah diprediksi jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2026.
Keputusan Muhammadiyah
PP Muhammadiyah telah menetapkan Idulfitri pada hari Jumat, 20 Maret 2026, satu hari lebih awal daripada prediksi pemerintah. Penetapan ini menggunakan metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang mengandalkan perhitungan matematis‑astronomis global. Kriteria KHGT mensyaratkan elongasi minimal 8° dan tinggi hilal minimal 5°, yang dipenuhi pada 19 Maret 2026 secara global, sehingga Muhammadiyah mengumumkan 1 Syawal pada 20 Maret.
Perbedaan metodologi dan sikap bijak
Perbedaan tanggal muncul karena pendekatan yang berbeda: pemerintah mengedepankan hisab‑rukyat dengan kriteria MABIMS, sementara Muhammadiyah menggunakan hisab matematis KHGT. Kedua pendekatan memiliki dasar ilmiah masing‑masing dan bukan hal baru dalam tradisi penentuan hari raya di Indonesia.
Baik Kemenag maupun ormas Islam menyerukan toleransi dan persatuan. Umat Islam diimbau untuk menghormati keputusan yang diambil masing‑masing pihak, sambil menunggu hasil resmi Sidang Isbat pada 19 Maret 2026.
Dengan kepastian yang akan diumumkan, masyarakat dapat mempersiapkan mudik, membeli kebutuhan, dan menyusun agenda ibadah dengan tenang, sambil menjaga semangat kebersamaan dalam merayakan hari kemenangan.












