PSPK – 29 Maret 2026 | Penutupan sebagian Selat Hormuz akibat konflik militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu guncangan besar pada pasar energi dunia. Selat yang menjadi jalur pengiriman sekitar 20 juta barel minyak per hari kini mengalami gangguan, menurunkan pasokan, menaikkan harga, dan memaksa sejumlah negara mengeluarkan kebijakan darurat untuk melindungi perekonomian mereka.
Dampak Langsung pada Harga Minyak dan BBM
Sejak awal Maret 2026, harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 15 % dibandingkan level sebelum konflik. Kenaikan tersebut langsung dirasakan konsumen di berbagai wilayah. Di Inggris, harga bensin telah menembus £1,5 per liter (sekitar US$7,25 per galon) dan solar mencapai £1,77 per liter (US$8,54 per galon). Pengecer besar seperti Asda melaporkan lonjakan permintaan sekaligus kekurangan pasokan di beberapa stasiun bahan bakar.
Negara‑Negara yang Merasakan Tekanan Terberat
Berbagai negara mengumumkan langkah darurat untuk menahan dampak krisis energi. Berikut rangkuman negara yang paling terdampak beserta kebijakan yang diambil:
- Prancis: Pemerintah mengalokasikan dana darurat sebesar 70 juta euro (sekitar Rp1,22 triliun) untuk sektor transportasi, pertanian, dan perikanan. Bantuan termasuk subsidi bahan bakar, pembebasan pajak solar selama satu bulan, dan pinjaman “Boost Fuels” hingga 50 000 euro untuk usaha kecil.
- Inggris: Harga BBM naik sekitar 15 % dan pemerintah berupaya menstabilkan pasokan lewat koordinasi dengan distributor serta memperpanjang kontrak cadangan strategis.
- Kuba: Listrik nasional padam total setelah tidak dapat mengimpor bahan bakar melalui jalur laut yang diblokir.
- Kuwait: Meskipun menjadi produsen, Kuwait mengumumkan peningkatan cadangan strategis dan menyiapkan subsidi energi bagi konsumen domestik.
- Uni Emirat Arab: Mengalami penurunan ekspor minyak karena gangguan pelayaran, sehingga memicu penyesuaian anggaran negara.
Prediksi Para CEO Migas Dunia
Pertemuan tahunan CERAWeek di Houston menampilkan para pemimpin perusahaan minyak dan gas yang mengungkapkan keprihatinan mereka. CEO ConocoPhillips menegaskan bahwa kehilangan 8‑10 juta barel minyak per hari dan 20 % produksi gas cair dapat menimbulkan dampak jangka panjang yang signifikan. Sementara CEO Kuwait Petroleum Corporation menilai penutupan Selat Hormuz sebagai “serangan terhadap ekonomi dunia” yang mengancam kestabilan pasokan energi global.
Para eksekutif sepakat bahwa meskipun konflik berpotensi berakhir, pasar tidak akan segera kembali normal. Cadangan strategis akan terus ditarik, dan harga tinggi dapat bertahan hingga pasokan kembali stabil.
Data Harga BBM di Beberapa Negara (Maret 2026)
| Negara | Harga Bensin | Harga Solar | Kenaikan (%) |
|---|---|---|---|
| Inggris | £1,50/L | £1,77/L | ≈15 |
| Prancis | €1,80/L | €1,65/L | ≈12 |
| Jerman | €1,70/L | €1,55/L | ≈10 |
| Indonesia | Rp15.000/L | Rp13.500/L | ≈8 |
Data di atas menunjukkan bahwa negara-negara Eropa mengalami lonjakan paling signifikan, sementara Indonesia masih relatif terlindungi berkat subsidi BBM pemerintah, meski tetap merasakan tekanan pada biaya transportasi.
Langkah Pemerintah dan Sektor Swasta
Untuk menahan dampak, pemerintah Prancis mengimplementasikan skema subsidi 0,20 euro per liter untuk transportasi darat, pembebasan pajak solar, dan bantuan operasional bagi nelayan. Di Inggris, otoritas energi menyiapkan cadangan strategis tambahan dan mempercepat proses impor LNG (gas alam cair) dari sumber alternatif.
Di sektor swasta, perusahaan logistik meningkatkan tarif pengiriman untuk menutupi biaya bahan bakar yang melonjak, sementara produsen barang konsumen menyesuaikan rantai pasokan dengan mencari pemasok energi terbarukan.
Secara keseluruhan, krisis energi yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz memperlihatkan betapa tergantungnya perekonomian global pada jalur laut strategis. Negara-negara yang memiliki cadangan strategis kuat atau kemampuan mengalihkan pasokan ke sumber alternatif dapat mengurangi dampak, sedangkan yang bergantung pada impor energi laut mengalami tekanan paling besar.
Dengan konflik yang masih berlangsung, ketidakpastian pasar energi diperkirakan akan berlanjut setidaknya hingga akhir kuartal pertama 2026. Pemerintah dan perusahaan harus terus memantau perkembangan, memperkuat cadangan, dan mempercepat transisi ke energi terbarukan untuk mengurangi kerentanan terhadap gangguan geopolitik di masa depan.












