PSPK – 05 Maret 2026 | Jakarta, 4 Maret 2026 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam sebesar 4,57 % dan menutup pada level 7.577,06, menandai salah satu penurunan terbesar dalam beberapa minggu terakhir.
Latar Belakang Penurunan
Penurunan tersebut dipicu oleh kombinasi sentimen negatif dari dua faktor utama: eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, serta revisi outlook kredit Indonesia oleh Fitch Ratings dari “stabil” menjadi “negatif”. Kenaikan harga minyak mentah Brent di atas USD 90-100 per barel menambah tekanan inflasi dan beban subsidi energi bagi negara importir minyak seperti Indonesia.
Pernyataan Pakar
Hendra Wardana, pengamat pasar modal, menekankan bahwa “setiap kenaikan harga minyak tidak hanya memicu inflasi, tetapi juga memperlebar beban subsidi serta menambah tekanan terhadap APBN”. Ia menambahkan bahwa arah IHSG hingga akhir Maret akan sangat dipengaruhi oleh dua variabel: harga minyak dan stabilitas rupiah. “Jika harga minyak tetap di bawah USD 90 per barel, tekanan masih bersifat volatilitas jangka pendek. Namun bila mendekati USD 100 per barel dan terjadi gangguan distribusi di Selat Hormuz, pasar dapat memasuki fase risk-off yang lebih dalam,” ujar Hendra.
Menurut Muhammad Wafi, Head of Research PT Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), “kombinasi eskalasi geopolitik Timur Tengah dan pemangkasan outlook kredit Indonesia oleh Fitch menciptakan arus keluar modal asing dan menggerakkan aksi jual agresif, terutama pada sektor perbankan big-caps.”
Data Perdagangan dan Sektor
Selama sesi perdagangan, volume mencapai 3,30 juta transaksi senilai sekitar Rp 29,72 triliun. Semua 45 saham unggulan (LQ45) tercatat turun, dengan penurunan rata-rata 4,11 %. Sektor paling tertekan adalah bahan baku (-7,39 %), diikuti oleh transportasi & logistik (-7,08 %) dan barang konsumen non-primer (-6,35 %).
- Sektor bahan baku turun 7,39 %
- Sektor transportasi & logistik turun 7,08 %
- Sektor barang konsumen non-primer turun 6,35 %
- Sektor energi turun 4,64 %
- Sektor teknologi turun 4,26 %
Di sisi lain, beberapa saham masih mencatat penguatan, antara lain IFSH (+22,69 %), SOTS (+24,59 %) dan INPS (+15,84 %). Saham yang paling terpuruk antara lain ICON (-12,34 %), MPOW (-11,57 %) dan BUVA (-10,92 %).
Analisis Teknis
Secara teknikal, area 7.500-7.600 menjadi zona penopang psikologis penting. IHSG berada di bawah level support kuat 7.400, sementara resistance terdekat berada pada rentang 7.700-7.720. Jika rupiah tetap stabil dan ketegangan geopolitik mereda, indeks berpotensi menguji kembali zona 7.900-8.100 pada akhir Maret. Sebaliknya, eskalasi konflik dapat mendorong IHSG menguji level 7.400 atau bahkan 7.300.
Reaksi Bursa dan Regulator
Irvan Susandy, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, menyatakan bahwa “eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya penutupan Selat Hormuz oleh Iran, telah memicu kekhawatiran krisis energi dan memengaruhi harga minyak dunia, sehingga menekan pasar saham Indonesia.”
BEI mencatat total nilai transaksi sebesar Rp 18,06 triliun pada sesi pertama, dengan 68 saham menguat, 748 melemah, dan 142 stagnan.
Prospek ke Depan
Fitch mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB meski outlooknya negatif, menyoroti risiko fiskal menengah-panjang akibat kebijakan sentralisasi. Para analis memperkirakan bahwa tekanan fiskal dan volatilitas nilai tukar rupiah akan menjadi faktor penentu bagi pergerakan IHSG dalam beberapa minggu ke depan.
Investor diharapkan tetap memperhatikan perkembangan harga minyak, dinamika geopolitik di Timur Tengah, serta kebijakan moneter global yang dapat memengaruhi aliran dana ke pasar emerging seperti Indonesia.
Dengan kombinasi faktor eksternal yang belum menentu dan sentimen domestik yang sensitif, IHSG berada pada persimpangan penting antara pemulihan gradual dan koreksi lebih dalam.












