PSPK – 19 Maret 2026 | Professor Anders Karlsson dari Universitas Uppsala menegaskan bahwa konflik di kawasan Teluk Persia tidak hanya berputar pada isu minyak mentah, melainkan meluas ke infrastruktur gas, rantai pasok energi, dan implikasi geopolitik yang memengaruhi ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Menurut Karlsson, serangan terhadap fasilitas gas seperti South Pars menandai fase baru perang yang menambah ketidakpastian pasokan energi global.
Perubahan Fokus Konflik: Dari Minyak ke Gas
Sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026, pihak-pihak yang terlibat telah memperluas target ke instalasi gas alam cair (LNG) dan jaringan pipa. Israel menyerang lapangan gas South Pars milik Iran‑Qatar, sementara Iran membalas dengan menargetkan fasilitas gas utama di Qatar. Serangan ini, menurut analis energi Argus Media, menciptakan “level dampak energi baru” karena perbaikan fasilitas dapat memakan waktu lebih lama daripada konflik itu sendiri.
Data JPMorgan memperkirakan pemangkasan pasokan minyak dan produk turunannya mencapai 12 juta barrel per hari, setara lebih dari 10 % kebutuhan harian dunia. Sementara itu, harga Brent melambung mendekati 110 dolar AS per barrel, dan harga gas di Eropa naik sekitar enam persen dalam hitungan jam setelah serangan diumumkan.
Dampak Tidak Langsung pada Indonesia
Meskipun Indonesia tidak mengimpor minyak secara langsung dari wilayah konflik, negara ini tetap merasakan tekanan harga melalui jalur tidak langsung. Sekitar 75 % pasokan minyak Indonesia berasal dari pelabuhan di Singapura dan Malaysia, yang keduanya mengimpor minyak dari Timur Tengah. Kenaikan harga minyak dunia kemudian menular ke biaya logistik, produksi manufaktur, dan harga barang kebutuhan sehari-hari.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan hubungan dagang Indonesia dengan kawasan Timur Tengah hanya mencakup 4,2 % ekspor dan 3,9 % impor, namun mayoritas impor energi memperkuat kerentanan terhadap fluktuasi harga global. Kepala Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani, menekankan pentingnya memantau situasi di Selat Hormuz, jalur utama yang menyumbang sekitar satu per lima pasokan minyak dunia. Jika Selat Hormuz tetap terganggu, harga energi dapat terus meningkat, memberi beban pada nilai tukar rupiah dan meningkatkan biaya impor barang-barang manufaktur.
Risiko Industri dan Komoditas Ekspor
Industri yang bergantung pada bahan baku impor, seperti petrokimia dan manufaktur, berada pada posisi paling rentan. Kenaikan biaya energi dapat memicu inflasi harga barang, menurunkan daya beli masyarakat, dan menghambat pertumbuhan sektor industri domestik. Di sisi lain, komoditas energi dan agro Indonesia, seperti batu bara dan minyak kelapa sawit, berpotensi meraih keuntungan dari harga dunia yang lebih tinggi, sehingga dapat menyeimbangkan tekanan pada neraca perdagangan.
- Harga minyak dunia diprediksi berada di kisaran 85–120 dolar AS per barrel sepanjang 2026.
- Pasokan LNG global dapat turun hingga 7 juta barrel per hari akibat kerusakan infrastruktur.
- Indonesia mengimpor sekitar 3,9 % energi dari Timur Tengah, namun ketergantungan pada re‑export dari Singapura dan Malaysia memperluas dampak.
Analisis Profesor Uppsala: Lebih Dari Sekadar Minyak
Profesor Karlsson menyoroti tiga dimensi utama yang perlu diperhatikan:
- Keamanan Energi: Penyerangan infrastruktur gas meningkatkan risiko gangguan jangka panjang pada pasokan energi, yang tidak dapat diatasi hanya dengan meningkatkan produksi minyak.
- Geopolitik dan Harga: Konflik memperkuat posisi negara-negara produsen energi dalam negosiasi harga, sekaligus menurunkan daya tawar konsumen energi seperti Indonesia yang bergantung pada jalur transit.
- Transisi Energi: Krisis ini mempercepat kebutuhan diversifikasi sumber energi, termasuk pengembangan energi terbarukan dan peningkatan efisiensi energi domestik.
Karlsson mengingatkan bahwa jika dunia tidak mengurangi ketergantungan pada energi fosil, konflik serupa dapat terulang dengan dampak yang lebih luas, mengancam stabilitas ekonomi global.
Dengan latar belakang tersebut, pemerintah Indonesia diperkirakan akan memperkuat kebijakan penghematan energi, meningkatkan cadangan strategis, serta mendorong investasi pada energi terbarukan. Langkah ini tidak hanya akan mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi harga minyak, tetapi juga mendukung target dekarbonisasi yang telah ditetapkan dalam Rencana Nasional Energi.
Secara keseluruhan, konflik Teluk Persia kini melampaui dimensi tradisional minyak, menimbulkan tantangan baru bagi pasar energi dunia. Dampaknya, meskipun tidak langsung terlihat di Indonesia, akan dirasakan melalui kenaikan biaya produksi, inflasi, dan tekanan pada nilai tukar. Analisis profesor Uppsala menegaskan pentingnya strategi diversifikasi energi untuk mengurangi risiko jangka panjang dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.










