PSPK – 24 Maret 2026 | Insiden penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus pada 12 Maret 2026 menjadi cermin retak kondisi demokrasi Indonesia, di mana ruang publik semakin dipadatkan dan kritik diperlakukan dengan kekerasan.
Andrie Yunus, yang menjabat sebagai Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), sebelumnya sudah menjadi target intimidasi karena aksi-aksinya. Pada 15 Maret 2025, ia bersama perwakilan Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan menembus rapat tertutup di Hotel Fairmont, menolak revisi Undang‑Undang TNI yang dibahas secara eksklusif.
Langkah tersebut bukan sekadar aksi spontan, melainkan wujud kesadaran bahwa kekuasaan harus berada di bawah pengawasan publik. Namun, ketika keberanian itu dijawab dengan penyiraman air keras, dialog berubah menjadi teror, menandakan bahwa argumen sudah tak lagi menjadi bahasa yang diakui.
Ruang publik yang terpinggirkan
Ruang rapat yang seharusnya menjadi arena deliberasi menjadi semacam gua yang menolak cahaya. Penutupan rapat dan tindakan kekerasan menandakan pergeseran dari deliberasi inklusif ke monolog otoriter.
- Penutupan rapat menghilangkan transparansi.
- Kekerasan mengintimidasi aktivis dan masyarakat sipil.
- Rasionalitas komunikatif yang dijelaskan Jürgen Habermas terdistorsi menjadi instrumen dominasi.
Untuk memulihkan demokrasi, beberapa langkah konkret diperlukan:
- Menegakkan kebijakan transparansi yang mengikat, tidak hanya sekadar formalitas.
- Memberikan perlindungan hukum yang tegas bagi aktivis dan saksi kebebasan berekspresi.
- Mengaktifkan kembali mekanisme pengawasan publik atas proses legislasi, terutama yang menyangkut keamanan nasional.
Kasus ini menegaskan bahwa tubuh yang dilukai tidak menghilangkan pesan; justru luka tersebut menjadi simbol perlawanan yang menyalakan kembali semangat kebenaran. Kebenaran tidak memerlukan teriakan, melainkan keberlanjutan dalam kesunyian yang penuh makna.
Pertanyaannya kini: apakah masyarakat dan institusi negara masih bersedia menjaga rasio publik dan menolak kembali ke pola otoriter yang menutup ruang dialog?










