Project Seru Penuh Kejutan

Israel Serang Studio TV Al-Manar di Beirut, Menambah Ketegangan Konflik Israel‑Hizbullah

March 4, 2026 • 0 Views
Israel Serang Studio TV Al-Manar di Beirut, Menambah Ketegangan Konflik Israel‑Hizbullah
Israel Serang Studio TV Al-Manar di Beirut, Menambah Ketegangan Konflik Israel‑Hizbullah

PSPK – 04 Maret 2026 | Militer Israel melancarkan serangan udara ke studio televisi Al-Manar, jaringan milik Hizbullah, yang terletak di kawasan Haret Hreik, selatan Beirut, pada Selasa (3/3/2026) pagi. Serangan ini menambah daftar panjang aksi militer yang semakin intensif sejak awal Maret, sekaligus memperparah krisis kemanusiaan di Lebanon selatan.

Juru bicara militer Israel, Letnan Kolonel Nadav Shoshani, menegaskan bahwa operasi tersebut merupakan langkah taktis untuk menghentikan propaganda dan koordinasi militer Hizbullah yang dianggap mengancam keamanan warga sipil Israel. “Kami menargetkan fasilitas yang digunakan untuk mengatur serangan drone dan roket terhadap wilayah Israel,” ujar Shoshani dalam pernyataan yang disiarkan melalui kanal resmi militer.

Menurut laporan lokal, serangan tersebut menewaskan tiga jurnalis Al-Manar dan melukai lebih dari dua puluh orang, termasuk teknisi dan warga sipil yang berada di sekitar studio pada saat ledakan. Rumah sakit terdekat mencatat 14 korban luka serius yang membutuhkan perawatan intensif. Pemerintah Lebanon mengonfirmasi total korban tewas kini mencapai 55 jiwa sejak serangan Israel pertama di wilayah selatan Beirut pada 2 Maret.

Latar Belakang Konflik

Serangan ke Al-Manar terjadi di tengah eskalasi yang dipicu oleh serangkaian aksi balasan antara Hizbullah dan Israel. Pada 2 Maret, Hizbullah meluncurkan roket dan drone ke wilayah utara Israel, menargetkan pangkalan udara Ramat David dan pangkalan Meron. Sebagai balasan, Israel melakukan serangkaian serangan udara ke Lebanon, menewaskan puluhan warga sipil dan menghancurkan infrastruktur kritis.

Hizbullah mengklaim serangan drone dan roketnya sebagai respons atas “gempuran kriminal” Israel yang menargetkan puluhan kota dan desa di Lebanon, termasuk area Haret Hreik dan Dahiyeh. Kelompok tersebut menuduh Israel melakukan operasi militer secara ilegal, melanggar kedaulatan Lebanon, serta memaksa warga sipil mengungsi.

Perintah Evakuasi dan Dampak Kemanusiaan

Militer Israel telah mengeluarkan perintah evakuasi untuk lebih dari 50 lokasi di Lebanon selatan, termasuk area di sekitar studio Al-Manar. Juru bicara militer Avichay Adraee mengirimkan peringatan melalui Telegram dalam bahasa Arab, menasihati penduduk untuk segera meninggalkan rumah demi “keselamatan mereka”.

Akibat perintah evakuasi, ribuan warga mengungsi ke kamp pengungsian sementara, sementara sekolah-sekolah di selatan Beirut ditutup untuk menampung mereka. Badan Penanggulangan Bencana Lebanon melaporkan peningkatan signifikan dalam jumlah pengungsi internal, dengan lebih dari 12.000 orang dipindahkan dalam dua hari terakhir.

Reaksi Internasional

Komunitas internasional menanggapi dengan keprihatinan. Sekretaris Jenderal PBB mengeluarkan pernyataan yang menyerukan “penahanan kekerasan” dan menekankan pentingnya dialog untuk menghindari eskalasi lebih lanjut. Amerika Serikat, yang sebelumnya menuduh Iran terlibat dalam serangan terhadap fasilitas militer Israel, menyatakan dukungan kepada Israel dalam upaya membela diri, namun sekaligus mengingatkan akan bahaya konflik yang meluas ke wilayah sipil.

Sementara itu, Iran mengutuk serangan ke Al-Manar sebagai “aksi agresi yang tidak dapat diterima” dan berjanji akan meningkatkan dukungan militer kepada Hizbullah. Pihak militer Iran juga mengklaim telah menembakkan misil balistik ke wilayah Israel sebagai balasan, meski belum ada konfirmasi independen mengenai keberhasilan serangan tersebut.

Analisis Dampak Politik

Serangan ke studio televisi Al-Manar menandai titik kritis dalam hubungan Israel‑Lebanon yang sudah tegang sejak konflik berskala penuh pada September 2024. Dengan menargetkan media milik Hizbullah, Israel tampaknya berusaha memotong jalur propaganda dan koordinasi militer kelompok tersebut. Namun, langkah ini dapat memicu reaksi keras dari pendukung Hizbullah di dalam negeri Lebanon serta memperkuat narasi anti‑Israel di wilayah tersebut.

Di dalam negeri, pemerintah Lebanon berada dalam posisi yang sulit. Meskipun menegaskan bahwa aktivitas militer Hizbullah bersifat ilegal dan mengancam kedaulatan negara, pemerintah juga harus menanggapi tekanan rakyat yang menuntut perlindungan dari serangan Israel. Keputusan untuk menolak tindakan agresif terhadap warga Lebanon yang menolak pendudukan Israel menambah kerumitan politik domestik.

Selanjutnya, para pengamat memperkirakan bahwa Israel dapat meningkatkan operasi udara terhadap fasilitas lain yang dianggap berhubungan dengan Hizbullah, termasuk jaringan komunikasi dan logistik. Jika demikian, risiko korban sipil akan terus meningkat, memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah melanda Lebanon selatan.

Dengan situasi yang terus berkembang, dunia menantikan langkah diplomatik yang dapat meredakan ketegangan. Namun, hingga ada sinyal nyata untuk gencatan senjata, warga sipil di kedua belah pihak tetap berada di ambang bahaya yang terus mengintai.

Konflik ini menegaskan kembali betapa rapuhnya stabilitas di Timur Tengah, di mana setiap serangan dapat memicu spiral kekerasan yang meluas. Upaya internasional untuk menengahi perdamaian menjadi semakin penting, sekaligus menuntut komitmen nyata dari semua pihak yang terlibat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *