PSPK – 16 Maret 2026 | INPEX mengonfirmasi komitmen investasi sebesar Rp339 triliun (sekitar USD20 miliar) untuk mengembangkan Proyek Abadi Masela di Laut Arafura.
Pertemuan antara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dengan CEO INPEX Corporation, Takayuki Ueda, pada 15 Maret 2026 di Tokyo menjadi titik penting untuk mempercepat keputusan investasi akhir. Pemerintah menekankan agar proyek yang telah tertunda puluhan tahun dapat segera masuk fase Front End Engineering and Design (FEED) pada kuartal kedua 2026 atau paling lambat kuartal ketiga tahun ini, sekaligus menyiapkan tender Engineering Procurement Construction (EPC) secara paralel.
Bahlil menekankan urgensi dengan menyebutkan bahwa proyek ini telah berjalan selama 27 tahun dan tidak dapat menunggu lebih lama. Ia juga menawarkan agar produksi lapangan Abadi Masela yang diperkirakan mencapai 9 Million Tonnes Per Annum (MTPA) dibeli oleh perusahaan nasional jika belum ada pembeli serius hingga akhir April 2026, sebagai langkah menjamin kepastian pasar.
CEO INPEX, Takayuki Ueda, menyatakan rasa terima kasih atas dukungan pemerintah dan menegaskan komitmen perusahaan untuk mempercepat realisasi proyek setelah 12 tahun terlibat dalam pengembangan Abadi Masela.
Secara administratif, proyek ini telah menyelesaikan perizinan penting pada awal 2026. Persetujuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) diterbitkan pada 13 Februari 2026, setelah Kementerian Kehutanan menyetujui pelepasan kawasan hutan pada Januari 2026. Sinergi antar kementerian menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga kelancaran investasi besar ini.
Berikut rangkuman tahapan penting proyek Masela:
- Investasi: Rp339 triliun (USD20 miliar) dengan kurs Rp16.900/USD.
- Target FEED: Q2 2026 – Q3 2026.
- Tender EPC: Dijadwalkan bersamaan dengan penyelesaian FEED.
- Produksi gas: 9 MTPA.
- Perizinan: AMDAL (13 Feb 2026), pelepasan hutan (Januari 2026).
Dengan dukungan finansial dan regulasi yang kuat, Proyek Abadi Masela diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia Timur serta sumber pasokan gas utama bagi industri nasional di masa depan.












