PSPK – 29 Maret 2026 | Ketegangan politik Amerika kembali memuncak menjelang pertengahan 2026, ketika dua peristiwa besar menyorot kepemimpinan Presiden Donald Trump. Di satu sisi, mantan Kepala Penjaga Perbatasan Amerika Serikat, Gregory Bovino, muncul secara tak terduga di ajang konservatif CPAC, menegaskan kembali dukungan terhadap agenda imigrasi keras Trump. Di sisi lain, gerakan protes nasional “No Kings” menggelar ribuan demonstrasi di lebih dari tiga ribu lokasi, menuntut Trump mundur dan menentang kebijakan otoriter serta penindasan imigrasi yang dianggap melanggar hak asasi.
Gregory Bovino, yang dikenal sebagai wajah paling agresif dalam operasi deportasi era Trump, mengumumkan kembali keanggotaan pada gerakan konservatif hanya 24 jam setelah pensiun resmi dari Border Patrol. Penampilan di CPAC, yang dipandu influencer konservatif Benny Johnson, menampilkan sorakan keras dari pendukung MAGA. Bovino, yang sempat menjadi sorotan karena perannya dalam penembakan warga Amerika Alex Pretti dan Renee Good, menegaskan ia telah bergabung dengan “tribe” baru: para pendukung Trump dan gerakan “America First”. Ia juga menerima dukungan publik dari aktor Dean Cain, mantan Superman, yang menekankan pentingnya menegakkan hukum dengan menolak seruan “defund ICE”.
Sementara itu, gerakan “No Kings” mengorganisir demonstrasi terbesar dalam sejarah modern Amerika. Lebih dari tiga ribu acara dilaporkan di seluruh 50 negara bagian, dengan perkiraan partisipasi mencapai delapan juta orang pada Sabtu, 28 Maret 2026. Minnesota menjadi panggung utama; lebih dari 100.000 orang berkumpul di sekitar Capitol State di St. Paul, menampilkan foto Alex Pretti dan Renee Good sebagai simbol perlawanan terhadap kebijakan imigrasi keras. Penyanyi legendaris Bruce Springsteen menutup acara dengan lagu “Streets of Minneapolis”, yang diciptakan sebagai respon atas kematian dua warga tersebut.
- Jumlah acara terdaftar: >3.300
- Perkiraan total peserta: 8 juta
- Lokasi tertinggi: Minnesota (≈100 rb peserta)
- Partisipasi internasional: lebih dari 12 negara, termasuk Italia, Prancis, dan Inggris
Protes tidak terbatas pada wilayah utara. Di Palm Beach County, Florida, demonstran anti-Trump menggelar aksi “No Kings” di sekitar kediaman Mar-a-Lago, menuntut pengunduran diri sang presiden. Aksi tersebut berlangsung bersamaan dengan konferensi pers di CPAC, menandai kontras tajam antara dukungan fanatik di dalam ruangan konferensi dan penolakan publik di luar.
Berbagai tokoh politik dan aktivis turut berpartisipasi. Senator Bernie Sanders, aktris Jane Fonda, serta pemimpin serikat pekerja menekankan bahwa kebijakan imigrasi Trump—termasuk penempatan agen ICE di tempat pemungutan suara—mengancam integritas demokrasi. Di New York, Donna Lieberman, direktur eksekutif NYCLU, menyebut Trump sebagai “bully‑in‑chief” yang berusaha menakut-nakuti warga untuk menghentikan protes. Sementara itu, Gedung Putih menanggapi demonstrasi dengan menyebutnya sebagai “Trump Derangement Therapy Sessions” dan menuding adanya pendanaan liberal di balik gerakan tersebut.
Isu-isu yang diangkat meliputi penindasan imigrasi, keterlibatan militer AS di Iran, serta rollback hak transgender. Demonstran di Los Angeles, Chicago, dan Washington D.C. menampilkan simbol-simbol kreatif, mulai dari bendera terbalik hingga boneka burung raksasa, sebagai bentuk kritik terhadap kebijakan otoriter. Beberapa insiden kekerasan terjadi, termasuk penggunaan gas air mata di Los Angeles dan penangkapan delapan orang di Denver, namun mayoritas aksi tetap damai.
Secara keseluruhan, gelombang protes ini mencerminkan polarisasi yang semakin tajam dalam politik Amerika. Di satu sisi, tokoh seperti Bovino menegaskan kembali komitmen mereka terhadap agenda Trump, mengklaim bahwa penegakan hukum yang keras diperlukan untuk melindungi keamanan nasional. Di sisi lain, jutaan warga menolak narasi tersebut, menuntut perubahan kebijakan dan menegaskan kembali prinsip demokrasi yang tidak boleh dipimpin oleh satu “raja”.
Protes “No Kings” menandai titik kritis bagi pemerintahan Trump, yang harus menghadapi tekanan domestik dan internasional menjelang pemilihan tengah tahun. Bagaimana respons kebijakan dan strategi politik Trump selanjutnya akan menjadi fokus utama bagi para pengamat dan pemilih Amerika.










