PSPK – 24 Maret 2026 | Dolar Amerika Serikat sedikit menguat pada Selasa lalu ketika sentimen investor menjadi lebih waspada akibat ketegangan yang terus berlanjut di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan serangkaian serangan terhadap jaringan listrik Iran melalui platform media sosialnya, yang menimbulkan spekulasi tentang kemungkinan negosiasi damai. Namun, Iran membantah adanya dialog langsung dengan Amerika.
Pasar keuangan menanggapi dengan hati-hati. Sementara dolar menguat, mata uang utama lainnya melemah: sterling turun 0,49% menjadi $1,3388, euro turun 0,3% menjadi $1,1583, dolar Australia turun 0,6% menjadi $0,6968, dan dolar Selandia Baru turun 0,5% menjadi $0,5832. Yen Jepang melemah ke level 158,73 per dolar setelah data inflasi konsumen inti Jepang menunjukkan 1,6% pada Februari, di bawah target 2% Bank Sentral Jepang.
- Indeks Dolar naik 0,2% menjadi 99,387 setelah sebelumnya turun 0,4%.
- Yield Treasury AS 2‑tahun naik 7,7 basis poin menjadi 3,908%.
- Harga Minyak Brent kembali mendekati $100,94 per barel, naik sedikit setelah penurunan tajam lebih dari 10% pada hari sebelumnya.
Para analis menilai bahwa penguatan dolar masih dipengaruhi oleh permintaan aset safe‑haven di tengah ketidakpastian geopolitik. Rodrigo Catril dari National Australia Bank menekankan bahwa pasar belum dapat memastikan apakah pernyataan Trump menandakan langkah menuju penyelesaian atau sekadar penundaan sementara yang menambah volatilitas. Chris Weston dari Pepperstone menambahkan bahwa meskipun penjualan dolar sebelumnya terjadi setelah penurunan harga minyak, kepercayaan terhadap pergerakan ini masih lemah dan potensi pembalikan tajam tetap ada.
Ketegangan militer di wilayah tersebut semakin intensif. Militer Israel melaporkan bahwa Iran meluncurkan serangkaian rudal ke wilayah Israel, sementara Garda Revolusi Iran mengklaim melancarkan serangan ke target AS dan menyebut pernyataan Trump sebagai operasi psikologis yang tidak berpengaruh.
Kondisi ini memperkuat persepsi pasar bahwa dolar dapat tetap kuat selama tidak ada tanda‑tanda de‑eskalasi yang jelas. Sim Moh Siong dari OCBC mencatat bahwa kenaikan harga minyak dan ketidakpastian perang menjadi faktor pendukung utama penguatan dolar dalam jangka pendek.












