PSPK – 18 Maret 2026 | Dubai telah lama diposisikan sebagai tujuan wisata paling aman di Timur Tengah, dengan sinar matahari sepanjang tahun, hotel bintang lima, dan atraksi kelas dunia. Namun, sejak konflik militer antara Iran dan koalisi regional meletus pada 28 Februari 2024, sektor pariwisata emirate ini mengalami penurunan signifikan.
Penerbangan internasional mengalami pembatasan besar‑besar. Bandara Internasional Dubai (DXB) dan Bandara Al Maktoum ditutup sementara setelah serangan drone menimpa fasilitas bandara, menjadikan penghentian penerbangan terluas sejak pandemi COVID‑19. Dalam 24 jam pertama, lebih dari 3.400 penerbangan dibatalkan.
- Pembatalan pemesanan: Lebih dari 80.000 reservasi hotel dibatalkan pada minggu pertama konflik.
- Kapasitas hotel: Tingkat hunian turun dari rata‑rata 80% pada tahun 2023 menjadi diperkirakan di bawah 60% pada kuartal pertama 2024.
- Kerugian ekonomi: Dewan Pariwisata dan Perjalanan Dunia (WTTC) memperkirakan kehilangan US$600 juta per hari dari pengeluaran wisatawan internasional.
- Langkah pemerintah: Kedua emirate, Dubai dan Abu Dhabi, menginstruksikan hotel untuk tidak mengusir tamu yang terjebak, serta menyediakan akomodasi darurat bagi mereka yang tidak dapat pulang.
Data resmi dari Departemen Ekonomi dan Pariwisata Dubai menunjukkan bahwa pada tahun 2025 bandara Dubai mencatat rekor 95,2 juta penumpang, setara dengan rata‑rata 260.000 penumpang per hari. Namun, setelah konflik, angka tersebut turun drastis, dengan laporan harian menurun hingga 120.000 penumpang pada minggu pertama Maret 2024.
| Tahun | Penumpang (juta) | Tingkat Hunian Hotel (%) |
|---|---|---|
| 2023 | 94,8 | 78 |
| 2025 (rekor) | 95,2 | 82 |
| 2024 (Q1 setelah konflik) | ≈70 | ≈58 |
Di lapangan, dampak terlihat jelas. Restoran‑restoran di kawasan bisnis dan pantai melaporkan penurunan pengunjung pada siang hari, meski malam tetap ramai karena penduduk lokal. Pemilik bistro menyebut bahwa layanan brunch Ramadan tetap beroperasi, namun dengan menu yang disederhanakan sebagai bentuk penghormatan terhadap situasi.
Operator tur perahu di Dubai melaporkan penurunan permintaan yang drastis, bahkan menghentikan layanan reguler. Sementara itu, atraksi seperti Miracle Garden tetap buka dengan tiket masuk gratis, menarik antrian panjang warga setempat.
Meski situasi masih tegang, pejabat pariwisata menegaskan komitmen jangka panjang. Strategi D33 Dubai menargetkan pertumbuhan ekonomi berbasis pariwisata hingga 2033, dan Abu Dhabi menyiapkan strategi 2030 dengan peningkatan jumlah wisatawan. Kedua rencana tersebut mengandalkan pemulihan permintaan internasional dalam tiga‑empat bulan setelah keamanan dianggap terkontrol.
Untuk saat ini, penduduk dan wisatawan yang masih berada di wilayah tersebut harus menyesuaikan diri dengan pola hidup baru: menunggu peringatan sirene, mengandalkan jalur penerbangan alternatif melalui Oman, dan mengandalkan bantuan pemerintah untuk akomodasi darurat. Ketidakpastian tetap menjadi faktor utama, namun industri pariwisata Dubai masih berupaya menjaga operasional dan menyiapkan diri untuk rebound ketika kondisi kembali stabil.












