PSPK – 07 Juni 2026 | Ribuan warga dan wisatawan memadati kawasan Malioboro, Yogyakarta, pada Sabtu, 6 Juni 2026, untuk menyaksikan Kirab Budaya Tresna Pancasila yang digelar dalam rangka Bulan Bung Karno 2026. Kirab yang mengusung semangat kebangsaan, kebudayaan, dan pengamalan nilai-nilai Pancasila ini dilepas oleh Wakil Ketua Komisi A DPRD DIY, Hifni Muhammad Nasikh, dari titik start di kawasan Malioboro menuju Taman Pintar Yogyakarta.
“Ini bagian dari peringatan Bulan Bung Karno dan menjadi atraksi wisata bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Kita menggelorakan nilai Pancasila dengan cara berbudaya,” kata Hifni di sela-sela acara. Ia menekankan bahwa kirab bukan sekadar perayaan, melainkan upaya untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur Pancasila di tengah masyarakat.
Barisan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) DIY menjadi peserta pertama yang membuka jalannya kirab. Kehadiran mereka menjadi simbol generasi muda yang diharapkan mampu meneruskan nilai-nilai kebangsaan dan semangat Pancasila. Dengan seragam putih-putih dan langkah tegap, Paskibraka berjalan diiringi sorak sorai penonton yang berjejer di sepanjang trotoar Malioboro.
Di belakang Paskibraka, pasukan bregada berjalan gagah diiringi alunan gamelan khas prajurit Keraton Yogyakarta. Irama musik tradisional yang mengalun sepanjang Malioboro menghadirkan nuansa budaya Jawa yang kental dan menarik perhatian masyarakat yang memadati sisi jalan. Para bregada mengenakan pakaian adat prajurit keraton, lengkap dengan atribut perang tradisional, menambah semarak suasana.
Kirab juga menampilkan beragam pertunjukan seni dan budaya. Sejumlah peserta mengenakan busana adat dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari pakaian adat Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Kelompok lain menampilkan karya fesyen bernuansa tradisional yang memadukan unsur budaya dengan kreativitas modern, seperti kebaya modern dengan sentuhan batik kontemporer dan tenun ikat yang dipadukan dengan desain kasual.
Salah satu penampilan yang paling menyita perhatian adalah kemunculan sosok Bung Karno dalam kirab. Tokoh yang diperankan oleh seorang seniman lokal mengenakan pakaian khas Presiden pertama Republik Indonesia—jas tutup hitam, peci, dan tongkat komando—tampak melambaikan tangan kepada masyarakat sepanjang rute perjalanan. Kehadirannya mengingatkan publik pada perjuangan Sang Proklamator sekaligus makna Bulan Bung Karno yang diperingati setiap Juni. Banyak warga yang berusaha mendekat untuk bersalaman atau sekadar berfoto, menciptakan interaksi yang hangat antara peserta dan penonton.
Inisiator Kirab Budaya Tresna Pancasila, Eko Suwanto, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda peringatan Hari Lahir Bung Karno, tetapi juga menjadi sarana membumikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Ketua Komisi A DPRD DIY dari Fraksi PDI Perjuangan itu, kata “Tresna” yang menjadi nama kegiatan memiliki makna cinta yang lahir dari ketulusan hati, mengandung nilai keikhlasan, kesukarelaan, dan kerelaan berkorban demi kepentingan yang lebih besar.
“Kirab ini tidak sekadar perayaan. Kami ingin menghadirkan ruang kebudayaan yang memungkinkan masyarakat melakukan pembatinan terhadap nilai-nilai Pancasila, sehingga tidak berhenti sebagai hafalan, tetapi menjadi pedoman hidup,” kata Eko. Ia menyampaikan apresiasi atas antusiasme masyarakat dan wisatawan yang hadir menyaksikan kegiatan tersebut, termasuk kalangan anak muda yang turut berpartisipasi dalam kirab. “Matur nuwun atas sambutan meriah dari masyarakat dan wisatawan yang hadir langsung ke Malioboro, khususnya anak-anak muda yang mengikuti kirab seperti Dimas Diajeng Jogja, Paskibraka, drumband, dan berbagai penampilan seni lainnya.”
Eko menambahkan bahwa Kirab Budaya Tresna Pancasila didedikasikan untuk menghidupkan kembali karakter kepahlawanan, patriotisme, nasionalisme, dan semangat cinta tanah air di tengah masyarakat. “Kegiatan ini didedikasikan untuk menggelorakan kembali karakter kepahlawanan. Kita ingin masyarakat memiliki mental yang mengutamakan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi, keluarga, maupun kelompok,” katanya.
Selain menguatkan semangat kebangsaan, penyelenggaraan Kirab Budaya Tresna Pancasila juga diharapkan memberi dampak positif bagi sektor pariwisata dan ekonomi rakyat. Ribuan pengunjung yang memadati Malioboro selama kegiatan berlangsung turut menggerakkan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut, mulai dari pedagang kaki lima yang menjual makanan dan minuman, hingga pelaku jasa wisata seperti penjual cinderamata dan penyewaan becak. Kepadatan pengunjung terlihat di sepanjang jalan, dengan banyak wisatawan asing yang tampak antusias mengabadikan momen dengan kamera mereka.
Kirab Budaya Tresna Pancasila tahun ini merupakan edisi pertama yang digelar secara besar-besaran. Eko Suwanto mengungkapkan harapannya agar kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan yang dinantikan. “Insya Allah kegiatan ini akan kembali digelar tahun depan dengan lebih baik lagi, menjadi kegiatan tahunan yang menyenangkan sekaligus membantu pariwisata Jogja,” ujarnya.
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Daerah DIY dan berbagai elemen masyarakat. Bregada dan kelompok seni yang tampil merupakan hasil kolaborasi dengan Keraton Yogyakarta, sanggar-sanggar seni, serta komunitas budaya di DIY. Partisipasi aktif dari berbagai pihak menunjukkan bahwa semangat gotong royong masih kuat dalam merayakan kebudayaan dan kebangsaan.
Melalui Kirab Budaya Tresna Pancasila, semangat Bung Karno dan nilai-nilai Pancasila diharapkan terus hidup di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai bagian dari peringatan sejarah, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk membangun Indonesia yang kuat, berkarakter, dan berlandaskan nilai-nilai luhur bangsa. Dengan kemasan yang atraktif dan melibatkan banyak unsur seni, kirab ini berhasil menyampaikan pesan kebangsaan secara ringan namun mendalam, menjangkau berbagai kalangan usia dan latar belakang.












