PSPK – 20 Maret 2026 | Washington – Laporan intelijen tahunan Amerika Serikat menyatakan bahwa Beijing tidak memiliki rencana konkret untuk menyerang Taiwan pada tahun 2027. Pemerintah AS menilai bahwa Tiongkok lebih memilih strategi menguasai pulau tersebut secara damai, meski tetap mempertahankan klaim kedaulatan.
- 2026: Beijing diproyeksikan akan meningkatkan tekanan politik dan ekonomi terhadap Taiwan, namun menghindari operasi amfibi yang berisiko tinggi.
- 2027: Tidak ada rencana invasi militer; fokus tetap pada diplomasi dan strategi non‑militer.
- 2049: Target jangka panjang China adalah “pemulihan nasional” yang mencakup penyatuan Taiwan, namun waktunya masih jauh.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan bahwa isu Taiwan merupakan urusan domestik dan menyerukan Amerika Serikat untuk bertindak dengan hati-hati. Ia juga menuduh Washington memperbesar ancaman China dan mengimbau perbaikan pemahaman bilateral.
Sementara itu, Pentagon pada tahun sebelumnya menandai 2027 sebagai kemungkinan jangka waktu serangan, namun penilaian terbaru menunjukkan pandangan yang lebih moderat. Laporan tersebut menekankan bahwa invasi amfibi akan sangat menantang dan berisiko kegagalan, terutama jika AS terlibat secara langsung.
Beijing diperkirakan akan menilai kesiapan militer, situasi politik di Taiwan, serta kemungkinan intervensi Amerika sebelum membuat keputusan. Meskipun AS tidak mengakui kedaulatan Taiwan secara resmi, Washington tetap menjadi pemasok utama bantuan militer bagi pulau itu, meski dukungan tersebut tampak melunak sejak pemerintahan Trump.
Kesimpulannya, meski ketegangan di Selat Taiwan tetap tinggi, laporan intelijen AS memperkirakan tidak akan ada invasi pada 2027. Fokus kedepannya adalah pada upaya diplomatik, tekanan ekonomi, dan persiapan jangka panjang menuju tujuan 2049.










