PSPK – 20 Maret 2026 | Jakarta – Aktor dan sutradara Baim Wong mengisahkan masa-masa paling gelap dalam kariernya, ketika ia tidak dapat membayar cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan harus menghadapi serangkaian kebangkrutan bisnis.
Kesulitan Membayar KPR
Antara tahun 2018 hingga 2020, tepatnya pada bulan Februari 2019, Baim mengalami penurunan pendapatan setelah memutuskan keluar dari rumah produksi besar Sinemart. Kondisi keuangan yang menurun drastis membuatnya tidak mampu melunasi angsuran KPR, sehingga ia terancam kehilangan rumah milik sendiri.
Rentetan Kebangkrutan Bisnis
Di samping masalah perumahan, Baim juga menghadapi kegagalan berulang di sektor kuliner. Sejak 2007 hingga 2020, hampir setiap restoran yang ia dirikan berakhir gulung tikar, menyerap sebagian besar tabungan dan mengakibatkan beban keuangan yang berat.
Ia menegaskan bahwa ia tidak meminta bantuan keuangan kepada orang tuanya karena tidak terbiasa mengandalkan keluarga dalam urusan finansial.
Langkah Desperasi dan Titik Balik
Keadaan yang memaksa Baim hampir menjual mobil mewah Alphard miliknya. Namun, pada saat yang sama, ia mulai mengeksplorasi platform YouTube sebagai cara untuk mencari penghasilan tambahan.
Awalnya, video‑video yang diunggah bersifat iseng, berupa eksperimen sosial dan aksi jenaka, hanya bertujuan menghibur penonton. Tanpa disangka, konten tersebut mendapat respon positif, menjadikannya sumber pendapatan utama dan mengangkat nama Baim kembali ke publik.
Ekspansi ke Dunia Sutradara
Keberhasilan di YouTube membuka peluang baru. Baim meluncurkan karier sebagai sutradara dengan film “Lembayung” pada tahun 2024, diikuti oleh proyek film “Sukma” (2025) dan “Semua Akan Baik-baik Saja” (2026). Aktivitasnya yang semakin produktif menunjukkan pemulihan total dari masa-masa sulit.
Pengalaman Baim Wong menggarisbawahi pentingnya ketangguhan mental, kreativitas, dan kesiapan untuk beradaptasi dalam menghadapi krisis finansial.












