PSPK – 16 Juni 2026 | Soal Subsidi Tarif TransJabodetabek, Pramono: Kalau Mau Ikut Patungan Alhamdulillah menjadi sorotan utama ketika Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menjawab pertanyaan media pada Rabu, 10 Juni 2026.
Latar Belakang Isu
Transportasi massal di kawasan Jabodetabek memang selalu menjadi tantangan besar bagi pemerintah provinsi dan kota. Tarif TransJabodetabek yang ditetapkan Rp3.500 per perjalanan dianggap terlalu tinggi oleh sejumlah pengguna, terutama di rute-rute yang melintasi wilayah luar Jakarta. Karena sebagian besar halte dan infrastruktur berada di luar batas administrasi DKI, beban pemeliharaan sering kali harus ditanggung oleh Pemerintah Provinsi Jakarta. Hal ini memicu perbincangan publik mengenai perlunya subsidi tambahan atau penyesuaian tarif.
Reaksi Gubernur Pramono
Pramono menegaskan bahwa ia tidak ingin berdebat tentang keberadaan atau tidaknya kontribusi subsidi, melainkan fokus pada penanganan transportasi secara menyeluruh. Ia mengatakan, “Saya tidak mau berdebat urusan ada atau tidak yang berkontribusi. Tapi yang jelas, bahwa persoalan transportasi Jakarta dan daerah pendukungnya atau penyangga ini kita tangani secara lebih baik.”
Meski menghindari perdebatan, Pramono secara terbuka mengungkapkan rasa syukurnya bila pemerintah daerah lain bersedia ikut patungan. “Ya, kalau ada yang mau ikut patungan, ya, saya, Alhamdulillah, banget. Tetapi kan memang mereka merasa bahwa ini kan kebutuhan Jakarta. Sebenarnya bukan kebutuhan Jakarta, ini kebutuhan bersama sebagai aglomerasi,” ujarnya, mengulang kembali frase Soal Subsidi Tarif TransJabodetabek, Pramono: Kalau Mau Ikut Patungan Alhamdulillah dalam konteks kolaborasi lintas wilayah.
Pendekatan Pemerintah Jakarta
Menurut Pramono, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tetap akan memberikan subsidi untuk TransJabodetabek, namun dengan penyesuaian agar beban tidak menumpuk pada anggaran daerah. Salah satu contoh yang disebutkan adalah rute Blok M‑Soekarno Hatta, yang tarifnya dirasa terlalu berat bagi penumpang. “Nggak mungkin tidak disubsidi, pasti tetap akan disubsidi. Tetapi yang jelas, bahwa akan ada beberapa penyesuaian yang diperlukan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa hampir semua halte di luar wilayah Jakarta harus dirawat oleh Pemerintah Provinsi DKI, sehingga beban operasional menjadi signifikan. Penyesuaian tarif diharapkan dapat menciptakan keseimbangan antara kebutuhan pengguna dan kemampuan keuangan pemerintah.
Tantangan dan Penyesuaian Tarif
Beberapa tantangan yang diidentifikasi meliputi:
- Pengelolaan infrastruktur di wilayah non‑Jakarta yang berada di bawah tanggung jawab DKI.
- Kebutuhan pendanaan yang stabil untuk menjaga kualitas layanan.
- Kesenjangan kemampuan ekonomi penumpang di wilayah suburban.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pramono mengusulkan beberapa langkah:
- Dialog intensif dengan pemerintah kota/kabupaten di sekitar Jabodetabek untuk membentuk mekanisme patungan dana.
- Evaluasi berkala tarif dan subsidi berdasarkan data kepadatan penumpang.
- Penerapan teknologi tiket terintegrasi yang memungkinkan penyesuaian tarif dinamis.
Dengan langkah‑langkah ini, diharapkan beban subsidi tidak hanya menjadi tanggung jawab Jakarta, melainkan menjadi tanggung jawab bersama, sesuai dengan semangat Soal Subsidi Tarif TransJabodetabek, Pramono: Kalau Mau Ikut Patungan Alhamdulillah.
Kesimpulannya, gubernur Pramono menegaskan komitmen Jakarta untuk terus mensubsidi layanan TransJabodetabek sambil membuka peluang bagi daerah lain berkontribusi. Kolaborasi lintas wilayah dan penyesuaian tarif yang lebih adil menjadi kunci untuk menjaga kelancaran mobilitas jutaan penduduk di kawasan aglomerasi ini.












