PSPK – 26 Maret 2026 | Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengumumkan bahwa hampir seluruh pengungsi bencana di wilayah Sumatra—termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—telah berpindah dari tenda pengungsian ke hunian sementara (huntara) yang disediakan pemerintah.
Tito menegaskan bahwa pemerintah tidak pernah mengklaim bahwa 100 % warga telah berpindah, melainkan menyatakan bahwa hampir semua sudah berada di hunian sementara. Sisanya, yang masih kurang dari satu persen, disebabkan oleh dua faktor utama:
- Kendala akses: Sebanyak 26 kepala keluarga (total 96 jiwa) di wilayah Aceh Tamiang masih berada di tenda karena medan yang sulit dijangkau. Pemerintah berencana membangun hunian tetap (hunap) untuk mereka.
- Keengganan pindah: Sebanyak 17 orang memilih tetap tinggal di tenda dan menolak hunian sementara. Mereka akan diberikan hunian tetap sebagai solusi jangka panjang.
Dalam konferensi pers pada Rabu, 25 Maret 2026, Tito menambahkan bahwa tim BNPB telah menyiapkan solusi pembangunan hunian tetap untuk mengatasi kendala tersebut.
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, menjelaskan bahwa pembangunan hunian tetap telah dimulai sejak masa transisi darurat, meskipun secara teknis seharusnya baru dimulai pada fase rehabilitasi yang dijadwalkan pada April 2026. Langkah ini diambil karena urgensi kebutuhan masyarakat, terutama di daerah pedalaman, yang sangat mengharapkan tempat tinggal permanen.
“Masyarakat sudah sangat ingin segera memiliki hunian tetap. Oleh karena itu, meskipun masih dalam tahap transisi, kami telah memulai pembangunan hunap,” ujar Suharyanto.
Dengan hampir seluruh pengungsi kini tinggal di hunian yang lebih layak, pemerintah berharap proses pemulihan dan rekonstruksi di Sumatra dapat berjalan lebih cepat dan terarah, sekaligus mengurangi beban kehidupan di tenda yang selama ini menjadi simbol krisis kemanusiaan.












