PSPK – 12 Maret 2026 | Teheran mengeluarkan peringatan keras bahwa konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dapat menimbulkan goncangan ekonomi yang menghancurkan pasar global. Peringatan ini muncul bersamaan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump pada 12 Maret yang menegaskan Amerika Serikat akan \”menyelesaikan pekerjaan\” dalam operasi militer di wilayah tersebut.
Serangan udara AS‑Israel yang dimulai pada 28 Februari berhasil menewaskan tokoh tinggi Iran, memicu eskalasi di Selat Hormuz—jalur air yang mengalirkan sekitar satu per lima minyak dunia dan sepertiga pupuk pertanian internasional. Gangguan pada aliran barang melalui selat menimbulkan lonjakan harga minyak mentah dan memaksa lembaga energi internasional melepaskan cadangan strategis sebesar 400 juta barel.
Iran melalui Garda Revolusi (IRGC) mengklaim telah menembus pertahanan AS‑Israel dan menargetkan dua kapal dagang yang melintasi Hormuz setelah mengabaikan peringatan. IRGC juga menegaskan kesiapan menyerang pusat‑pusat ekonomi dan bank yang terkait dengan kepentingan Amerika dan Israel, sekaligus menegaskan kontrol penuh atas jalur strategis tersebut.
Para analis mengingatkan bahwa gangguan berkelanjutan di Hormuz dapat menimbulkan dampak ekonomi serius, terutama bagi negara‑negara di Asia dan Eropa yang sangat bergantung pada pasokan energi dan pupuk. Dampak tersebut mencakup:
- Kenaikan tajam harga minyak mentah dan produk energi.
- Penurunan pasokan pupuk yang dapat memengaruhi produksi pangan global.
- Fluktuasi nilai tukar dan pasar saham di wilayah yang terkena dampak.
Pernyataan Trump menekankan bahwa \”praktis tidak ada lagi target yang tersisa\” setelah AS menenggelamkan 28 kapal penyebar ranjau Iran. Ia menambahkan, \”Kapan pun saya ingin itu berakhir, itu akan berakhir,\” dalam wawancara dengan Axios. Pemerintah AS juga berencana menggunakan cadangan strategis minyak \”sedikit\” untuk menstabilkan pasar.
Sementara itu, militer Israel menyatakan bahwa operasi mereka masih jauh dari selesai dan memiliki \”banyak target\” di wilayah Iran. Di luar wilayah tersebut, konflik menimbulkan dampak langsung di Lebanon, di mana serangan udara dan roket menewaskan puluhan warga sipil dan menambah lebih dari 630 korban tewas serta ratusan ribu pengungsi.
Serangan drone dan rudal yang diluncurkan oleh IRGC serta kelompok Hizbullah menambah ketegangan di kawasan Teluk, termasuk insiden drone yang jatuh di dekat bandara Dubai dan menabrak tangki bahan bakar di pelabuhan Salalah, Oman.
Di sisi lain, analis keamanan menilai bahwa risiko Iran melakukan serangan teror berskala besar di luar Timur Tengah masih terbatas. Menurut Stephen Zunes, profesor politik Universitas San Francisco, Iran tidak memiliki modus operandi untuk melancarkan aksi terkoordinasi di luar wilayahnya, meski pernah melakukan pembunuhan terisolasi di Eropa.
Jika konflik berlanjut, Tehran kemungkinan akan tetap menganggapnya sebagai ancaman eksistensial dan bersedia menanggung kerugian lebih lanjut untuk mengirim pesan bahwa serangan lanjutan terhadap AS‑Israel tidak akan dihentikan tanpa jaminan keamanan.










