Project Seru Penuh Kejutan

Harapan Petani Sikka Pupus Akibat Penyakit Darah Pisang, Tindakan Pemerintah Masih Minim

March 10, 2026 • 0 Views
Harapan Petani Sikka Pupus Akibat Penyakit Darah Pisang, Tindakan Pemerintah Masih Minim
Harapan Petani Sikka Pupus Akibat Penyakit Darah Pisang, Tindakan Pemerintah Masih Minim

PSPK – 10 Maret 2026 | Seorang petani bernama Maria Goreti, 46 tahun, mengaku harus menyerahkan empat pohon pisang kepok (Musa balbisiana) yang tersisa di belakang rumahnya setelah seluruh buahnya menghitam dan mengeluarkan lendir coklat kehitaman. Ia semula berencana menjual tiga tandan ke pasar dan menyimpan satu tandan untuk konsumsi keluarga selama musim hujan, namun semua buah rusak dan tidak dapat dipanen.

Goreti, warga Desa Kringa, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, mengatakan bahwa penyakit darah pisang telah menyerang hampir seluruh tanaman pisang di desa. Daun menguning, batang mengecil, dan buah menghitam meski tampak sehat dari luar. Petani lain di Kecamatan Waiblama dan Desa Ilin Medo melaporkan kondisi serupa sejak April 2025, dengan upaya yang terbatas pada tebang dan bakar tanpa bantuan teknis.

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum, yang menimbulkan lendir berwarna merah kecoklatan pada batang dan buah, menyebabkan pembusukan internal. Menurut para petani, penyebaran dipercepat oleh peralatan pertanian yang tidak disterilkan, kendaraan pengangkut, serta praktik menebang pohon dengan parang yang terkontaminasi.

Akibat wabah, pendapatan petani menurun drastis. Harga satu tandan pisang kepok naik dari Rp25.000‑Rp40.000 menjadi Rp60.000‑Rp100.000, sementara harga sisir pisang melonjak hingga tiga kali lipat. Pengepul lokal, Baltasar Dore, mengakui volume pembelian pisang menurun signifikan sejak akhir 2025, sehingga mereka beralih membeli batok kelapa.

Petani mengeluhkan kurangnya sosialisasi dan bantuan dari pemerintah. Mereka menyatakan tidak pernah menerima penyuluhan tentang pencegahan atau pengendalian penyakit, sehingga terpaksa melakukan tindakan destruktif sendiri.

Berbeda dengan klaim Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Sikka yang menyatakan telah melakukan penyuluhan dan pendampingan intensif. Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Fransiska Omi, menjelaskan bahwa petugas Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) telah melakukan demonstrasi penggunaan pestisida Nordox di 20 kecamatan, mencakup lahan seluas 103,25 hektare, serta uji coba herbisida untuk eradikasi total. Menurut data dinas, pada tahun 2025 luas lahan terinfeksi mencapai 366,52 hektare, tersebar di Nita, Paga, Mego, Tanawawo, Magepanda, Koting, Alok, Hewokloang, Bola, Waigete, Nelle, Talibura, Alok Timur, dan Lela.

Fransiska menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah desa, kecamatan, dan petani untuk menerapkan eradikasi total, termasuk menebang dan membakar semua tanaman terinfeksi serta menjaga sanitasi kebun. Namun, para petani menilai respons tersebut masih lambat dan tidak menjangkau daerah paling terdampak.

Petani seperti Paulus Gani berharap pemerintah lebih responsif, hadir di lapangan, dan memberikan pendampingan konkret sebelum kerusakan meluas. “Jangan sampai tanaman kami parah dulu baru datang,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *