PSPK – 09 Maret 2026 | Sabtu, 8 Maret 2026, kelompok pejuang Hizbullah mengumumkan peluncuran serangkaian serangan besar-besaran menggunakan roket dan drone terhadap sejumlah target militer Israel di wilayah utara. Sebanyak dua puluh (20) serangan dilaporkan berhasil menabrak konsentrasi pasukan IDF, instalasi pertahanan udara, serta fasilitas strategis di kota-kota seperti Nahariya, Haifa, Kiryat Shmona, dan Acre.
Menurut pernyataan yang dipantau oleh Anadolu, serangan ini merupakan balasan atas operasi militer Israel yang menargetkan puluhan kota dan desa di Lebanon, termasuk wilayah pinggiran selatan Beirut. Sebelum melancarkan serangan, Hizbullah mengeluarkan peringatan melalui kanal Telegram resmi mereka, memanggil warga Nahariya dan Kiryat Shmona untuk mengungsi ke selatan demi menghindari bahaya.
Rincian Target dan Metode Serangan
Serangan dibagi menjadi tiga gelombang roket yang dipadukan dengan sekawanan pesawat nirawak (drone). Berikut adalah poin-poin utama yang menjadi sasaran:
- Kota Nahariya – menjadi titik fokus pertama, dengan roket dan drone menembus pertahanan lokal.
- Kota Haifa – termasuk penyerangan radar Iron Dome di lokasi Kiryat Eliezer, yang disebut Hizbullah sebagai salah satu basis pertahanan udara utama di wilayah tersebut.
- Kiryat Shmona – serangan simultan roket dan drone menargetkan instalasi militer di kota perbatasan.
- Pangkalan Stella Maris dan kompleks industri militer Rafael di dekat kota Acre – dihantam oleh roket presisi.
- Konsentrasi pasukan IDF di sekitar Khiam dan Bukit Hamamis, Lebanon selatan, serta posisi militer di perlintasan Gerbang Fatima (perbatasan Lebanon‑Israel) dan pangkalan Ein Zeitim di barat laut Safed.
- Rudal presisi – dilaporkan diarahkan ke pangkalan Tel Hashomer, berjarak sekitar 120 km dari perbatasan Lebanon.
Selain roket, Hizbullah menegaskan bahwa drone‑nya beroperasi dalam formasi “sekawanan” yang dapat mengelak dari sistem pertahanan udara tradisional, menambah kompleksitas respon Israel.
Reaksi Militer Israel
Militer Israel (IDF) mengakui bahwa operasi khusus malam hari di wilayah Lebanon timur untuk mencari sisa‑sisa jasad navigator Ron Arad tidak berhasil. Namun, mereka belum memberikan pernyataan resmi mengenai kerusakan material atau korban jiwa yang diakibatkan oleh serangan 20 kali lipat tersebut.
Dalam konteks yang lebih luas, serangan ini terjadi di tengah kampanye militer Israel yang meluas di Lebanon sejak awal minggu ini. Operasi tersebut dipicu oleh penembakan roket terbatas oleh Hizbullah serta ketegangan yang dipicu oleh keterlibatan militer Amerika Serikat dan Iran di kawasan.
Latar Belakang Konflik
Israel telah menewaskan lebih dari 4.000 orang dan melukai sekitar 17.000 lainnya dalam serangan bersenjata di Lebanon sejak Oktober 2023. Konflik yang semula berskala terbatas meningkat menjadi perang skala penuh pada September 2024. Meskipun perjanjian gencatan senjata ditandatangani pada November 2024, kedua belah pihak saling menuduh melanggar kesepakatan, dengan Israel melanjutkan operasi lintas batas dan Hizbullah menanggapi dengan serangan balasan.
Ketegangan kini dipengaruhi pula oleh dinamika geopolitik regional, termasuk keterlibatan Amerika Serikat yang mendukung operasi Israel, serta ancaman Iran yang terus menambah tekanan pada kedua belah pihak.
Implikasi Regional
Serangan berskala ini dapat memicu eskalasi lebih lanjut di wilayah Levant. Penggunaan roket dan drone secara simultan menunjukkan peningkatan kemampuan taktis Hizbullah, terutama dalam hal koordinasi lintas domain udara‑daratan. Jika Israel meningkatkan respon udara atau melakukan serangan darat, risiko korban sipil di kedua sisi dapat meningkat, memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah melanda Lebanon dan Israel utara.
Pengamat militer menilai bahwa serangan ini juga berfungsi sebagai sinyal politik: Hizbullah ingin menegaskan bahwa meskipun ada gencatan senjata formal, kemampuan operasionalnya tetap kuat dan dapat dijadikan alat tawar menegosiasikan posisi dalam dinamika politik regional.
Dengan lebih dari dua puluh serangan yang berhasil menembus pertahanan, situasi di perbatasan Lebanon‑Israel diperkirakan akan tetap tegang dalam beberapa minggu ke depan, sambil menunggu upaya diplomatik internasional untuk menurunkan intensitas konflik.
Ke depan, komunitas internasional diharapkan dapat memperkuat upaya mediasi, mengingat potensi dampak domino yang dapat meluas ke negara‑negara tetangga serta menambah beban pada krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.










