Project Seru Penuh Kejutan
Berita  

Awas! Kental Manis Masih Mengintai Balita Tanpa Disadari

June 29, 2026 • 0 Views
Awas! Kental Manis Masih Mengintai Balita Tanpa Disadari
Awas! Kental Manis Masih Mengintai Balita Tanpa Disadari

PSPK – 29 Juni 2026 | Awas! Survei Membuktikan Kental Manis Masih Mengintai Balita Tanpa Disadari. Produk kental manis (SKM) menjadi perhatian serius, terutama bagi orang tua yang memiliki anak-anak di usia balita. Dalam survei terbaru yang dilakukan oleh Pikiran Rakyat Media Network (PRMN) bersama tim peneliti Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Unisba), terungkap bahwa konsumsi kental manis oleh anak-anak masih terjadi dengan angka yang mengkhawatirkan. Survei ini melibatkan lebih dari 2.150 orang tua yang memiliki anak usia 0–5 tahun dan hasilnya menunjukkan fakta mencengangkan.

Hasil survei menunjukkan bahwa 67,9% responden mengakui memberikan kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan. Fenomena ini menunjukkan bahwa paparan kental manis telah terjadi sejak usia yang sangat dini. Sebanyak 50,84% balita usia 1–3 tahun telah terpapar kental manis, sementara 6,65% bayi di bawah satu tahun juga terpapar melalui campuran makanan pendamping ASI (MPASI). Yang lebih mengejutkan, banyak anak mendapatkan kental manis dari makanan yang tampaknya biasa di meja makan, seperti roti, jajanan, minuman kemasan, dan makanan penutup.

Faktor Penyebab Konsumsi Kental Manis

Ketua tim peneliti, Ivan Firmansyah, menekankan bahwa konsumsi kental manis bukan hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan gizi di kalangan orang tua. Beberapa faktor lain turut memengaruhi, seperti kebiasaan keluarga, lingkungan sosial, kemudahan akses produk, dan pertimbangan ekonomi. Survei ini juga menemukan bahwa praktik pemberian kental manis tidak hanya terjadi pada keluarga dengan tingkat pendidikan rendah. Sebagian besar responden merupakan lulusan sarjana, menunjukkan bahwa budaya konsumsi keluarga sangat berpengaruh terhadap pola makan anak.

Dampak Kesehatan dari Konsumsi Kental Manis

Dr. Rizky Suganda P., seorang dokter umum di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, menilai bahwa hasil survei ini mencerminkan kondisi yang sering ditemui di lapangan. Ia mengingatkan bahwa anak usia 1–3 tahun memerlukan sumber nutrisi yang tepat untuk mendukung pertumbuhan optimal, sementara kental manis memiliki kandungan gula yang sangat tinggi tetapi rendah protein dan mikronutrien. Selain itu, akumulasi gula tambahan dari berbagai makanan dan minuman sehari-hari patut menjadi perhatian orang tua. Misalnya, anak yang sarapan dengan roti kental manis, mengonsumsi jajanan manis di sekolah, dan menikmati makanan penutup pada malam hari, dapat mengakumulasi asupan gula harian yang sangat tinggi tanpa disadari.

Dr. Rizky juga menyoroti bahwa paparan rasa manis yang berulang sejak usia dini dapat memengaruhi preferensi makanan anak di masa depan. Anak yang terbiasa mengonsumsi makanan manis cenderung kurang menyukai buah, susu tanpa tambahan gula, dan air putih. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan seperti obesitas, prediabetes, dan gangguan pola makan. Banyak anak yang kemudian menjadi picky eater, hanya mau mengonsumsi makanan dengan rasa manis yang kuat.

Tips untuk Orang Tua

Dr. Viramitha Kusnandi Rusmil, Sp.A(K), seorang dokter spesialis anak konsultan nutrisi dan penyakit metabolik, mengingatkan bahwa kental manis tidak dirancang sebagai sumber nutrisi utama bagi anak. Pada usia 1–3 tahun, anak memerlukan asupan protein, vitamin, dan mineral yang cukup untuk mendukung pertumbuhan optimal. Untuk itu, orang tua disarankan untuk:

  • Membiasakan anak minum air putih sejak dini.
  • Membatasi makanan dan minuman dengan tambahan gula.
  • Memilih sumber protein dan nutrisi yang sesuai dengan usia anak.
  • Membiasakan konsumsi buah sebagai camilan.
  • Membaca label kandungan gula sebelum membeli produk makanan atau minuman.

Awas! Survei Membuktikan Kental Manis Masih Mengintai Balita Tanpa Disadari menjadi pengingat bagi orang tua akan pentingnya memperhatikan tidak hanya kuantitas tetapi juga kualitas pola konsumsi anak. Dengan pendampingan yang tepat, orang tua dapat membantu anak membangun kebiasaan makan yang lebih sehat untuk masa depannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *