PSPK – 31 Mei 2026 | Jadi Penghasil Kopi Nomor Dua di Indonesia, Mukhlis Basri Sebut Kopi Lampung Barat Jadi 8216Emas Hijau8217, pernyataan yang menegaskan posisi strategis Kabupaten Lampung Barat dalam industri kopi nasional. Dalam sambutan resmi pada acara Panen Raya Jagung Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI) di Desa Sinar Jati, Tegineneng, Kab. Pesawaran, Mukhlis Basri menegaskan bahwa daerahnya menempati peringkat kedua setelah Kabupaten Pagar Alam.
Profil Produksi Kopi Lampung Barat
Kabupaten Lampung Barat menghasilkan lebih dari 99 persen kopi robusta, jenis yang paling banyak diekspor dan memiliki permintaan stabil di pasar global. Data lapangan menunjukkan bahwa produksi tahunan mencapai jutaan kilogram, cukup untuk menyalurkan kebutuhan pasar domestik dan sebagian besar diekspor ke negara-negara Asia. Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan kebijakan pemerintah daerah, pelatihan petani, serta adopsi teknologi pertanian modern.
Emas Hijau: Nilai Ekonomi Kopi
Menurut Mukhlis Basri, kopi kini bertransformasi menjadi “emas hijau” bagi petani. Harga kopi robusta tetap stabil di atas Rp50.000 per kilogram, memberikan margin keuntungan yang signifikan bagi petani kecil. “Produksi kopi sekarang ini masih betul-betul menjadi emas hijau. Harganya masih bertahan di atas Rp50 ribu per kilogram, jadi luar biasa untuk para petani,” tegasnya.
Penekanan pada istilah emas hijau muncul kembali dalam pernyataan beliau, menegaskan kembali bahwa menjadi Jadi Penghasil Kopi Nomor Dua di Indonesia, Mukhlis Basri Sebut Kopi Lampung Barat Jadi 8216Emas Hijau8217 bukan sekadar slogan, melainkan realita ekonomi yang menguatkan daya beli dan kesejahteraan komunitas pertanian.
Strategi Pengembangan dan Tantangan
- Penguatan Rantai Pasok: Mendorong kolaborasi antara petani, koperasi, dan perusahaan pengolahan untuk memastikan mutu dan konsistensi pasokan.
- Inovasi Teknologi: Penerapan sistem irigasi tetes, pemupukan berbasis data, dan pelatihan manajemen kebun modern.
- Diversifikasi Produk: Pengembangan produk turunan kopi seperti kopi instan, kopi luwak, serta produk kopi specialty untuk nilai tambah.
Meskipun demikian, tantangan seperti perubahan iklim, serangan hama, dan fluktuasi harga pasar global tetap menjadi perhatian. Pemerintah daerah bersama DPR RI, khususnya Komisi V, berkomitmen untuk menyediakan dukungan regulasi dan pembiayaan yang memadai.
Kolaborasi Nasional dan Harapan Masa Depan
Mukhlis Basri secara terbuka mengundang Ketua Umum GNTI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, untuk mengunjungi Lampung Barat. Kunjungan tersebut diharapkan dapat memperluas jaringan kemitraan, tidak hanya dalam sektor kopi tetapi juga perikanan, mengingat potensi wilayah pesisir yang melimpah.
Dalam konteks kebijakan nasional, Presiden Joko Widodo pernah mengunjungi Lampung Barat, menandai pentingnya wilayah ini dalam agenda pembangunan pertanian. Hal ini memberi sinyal kuat bahwa pemerintah pusat akan terus memberi perhatian khusus bagi daerah penghasil kopi nomor dua ini.
Secara keseluruhan, menjadi Jadi Penghasil Kopi Nomor Dua di Indonesia, Mukhlis Basri Sebut Kopi Lampung Barat Jadi 8216Emas Hijau8217 mencerminkan dinamika positif yang menggabungkan potensi alam, kebijakan pro-petani, dan dukungan pasar global. Dengan langkah-langkah strategis yang terus dioptimalkan, Lampung Barat berada di jalur yang tepat untuk mempertahankan posisinya sebagai motor penggerak ekonomi pertanian Indonesia.












