PSPK – 31 Mei 2026 | Di Papua Barat, Menhan Minta Pembinaan Prajurit Dilakukan Secara Berkelanjutan saat melakukan kunjungan kerja ke Yonif Teritorial Pembangunan (Yon TP) 805KSW di Kabupaten Manokwari Selatan, Selasa (26/5/2026). Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, meninjau langsung kesiapan pembinaan personel, sarana prasarana latihan, serta kesiapan satuan dalam mendukung pelaksanaan tugas di wilayah tersebut. Kunjungan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan bahwa proses pembinaan prajurit tidak hanya bersifat sementara, melainkan menjadi suatu sistem yang terus-menerus diperkuat.
Kunjungan Kerja Menteri Pertahanan
Menhan ditemani oleh Wakil Panglima TNI, Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III, Kabaloghan, serta Pangdam XVII/Kasuari. Selama berada di lapangan, mereka meninjau fasilitas latihan, lapangan tembak (lapbak), dan area akomodasi pelatih. Peninjauan tersebut bertujuan mengidentifikasi kebutuhan infrastruktur yang mendukung proses Pembinaan Prajurit secara berkelanjutan. Menhan menekankan bahwa fasilitas yang memadai merupakan fondasi utama bagi efektivitas pelatihan.
Arahan Penting untuk Pelatihan
Dalam sesi pengarahan, Menhan menekankan tiga hal utama: pertama, pentingnya tenaga pelatih yang profesional, kompeten, dan berpengalaman; kedua, keberlangsungan penugasan pelatih harus dijaga agar tidak terputus; ketiga, kesejahteraan pelatih harus diprioritaskan secara optimal. “Kualitas Pembinaan Prajurit akan menurun bila tenaga pelatih berganti-ganti tanpa kesinambungan,” ujar Menhan. Ia menambahkan bahwa kesejahteraan meliputi tunjangan, fasilitas kesehatan, dan kesempatan pengembangan karier, yang semuanya berkontribusi pada motivasi dan kinerja pelatih.
Fokus pada Program Latihan dan Longmalap
Menhan juga memberikan perhatian khusus pada program latihan satuan (Proglatsi), termasuk latihan pra tugas yang harus disiapkan secara matang, realistis, dan sesuai tantangan lapangan. Program tersebut mencakup simulasi operasi, taktik tempur, serta penanganan situasi darurat. Salah satu elemen penting yang ditekankan adalah materi Longmalap (Pertolongan Pertama di Lapangan). Menhan menegaskan bahwa kemampuan pertolongan pertama menjadi kompetensi kritis untuk mendukung keselamatan personel selama operasi, terutama di daerah terpencil seperti Papua Barat.
Harapan dan Dampak Jangka Panjang
Dengan menekankan Di Papua Barat, Menhan Minta Pembinaan Prajurit Dilakukan Secara Berkelanjutan, diharapkan satuan Yon TP 805KSW dapat menghasilkan prajurit yang tidak hanya siap tempur, tetapi juga mampu menjaga keselamatan rekan-rekannya. Menhan mengharapkan bahwa pendekatan berkelanjutan ini akan menurunkan tingkat kecelakaan, meningkatkan efisiensi operasional, serta memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap TNI di wilayah tersebut.
Keberlanjutan pembinaan juga diharapkan menjadi model bagi satuan militer lainnya di seluruh Indonesia. Jika berhasil, strategi ini dapat diadaptasi pada wilayah lain dengan tantangan geografis dan operasional serupa, sehingga meningkatkan standar keseluruhan kesiapan pertahanan nasional.
Secara keseluruhan, kunjungan kerja Menhan ke Manokwari Selatan menegaskan kembali komitmen pemerintah dalam memperkuat pertahanan melalui Pembinaan Prajurit yang berkelanjutan, profesional, dan terintegrasi dengan kebutuhan lapangan.










