PSPK – 09 Mei 2026 | Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) saat ini sedang menghadapi krisis yang sangat serius. Banyak yang memprediksi bahwa WTO hampir mati, tetapi Uni Eropa belum mau menyerahkan ‘jenazahnya’. Eks Sekjen NATO, Jens Stoltenberg, baru-baru ini mengungkapkan bahwa Ukraina dapat menyerahkan wilayah sementara demi perdamaian. Namun, pernyataan ini tidak secara langsung terkait dengan krisis WTO.
Krisis WTO disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina, serta kegagalan negara-negara anggota untuk mencapai kesepakatan tentang reformasi organisasi. WTO juga menghadapi tantangan dari negara-negara yang ingin memperkuat posisi mereka dalam perdagangan global.
Uni Eropa, sebagai salah satu negara anggota WTO, belum mau menyerahkan ‘jenazahnya’ karena masih memiliki harapan bahwa WTO dapat direformasi dan menjadi lebih efektif dalam mengatur perdagangan global. Namun, banyak yang mempertanyakan apakah WTO masih relevan dalam dunia perdagangan yang semakin kompleks.
Perdebatan tentang masa depan WTO masih berlangsung, dan belum jelas apa yang akan terjadi pada organisasi ini di masa depan. Namun, satu hal yang jelas adalah bahwa krisis WTO memiliki dampak yang signifikan pada perdagangan global dan perekonomian dunia.
Untuk mengatasi krisis ini, diperlukan kerja sama yang lebih erat antara negara-negara anggota WTO, serta komitmen untuk mereformasi organisasi ini. Jika tidak, maka WTO mungkin benar-benar ‘mati’ dan digantikan oleh organisasi lain yang lebih efektif.












