PSPK – 07 Maret 2026 | Bayangkan sebuah malam sunyi di sebuah gua pada abad ke-7 Hijriah, di Jabal Nur dekat Mekkah, ketika seorang pria paruh baya bernama Muhammad sedang bermuhasabah. Di saat itulah Malaikat Jibril menurunkan lima ayat pertama Surah Al-Alaq, menandai turunnya wahyu pertama yang kemudian dikenal sebagai Nuzulul Quran.
Apa Itu Nuzulul Quran?
Secara harfiah istilah ini berarti “turunnya Al-Qur’an”. Dalam konteks sejarah, ia merujuk pada peristiwa ketika wahyu pertama disampaikan kepada Nabi melalui Jibril, yakni ayat-ayat 1-5 Surah Al-Alaq. Peristiwa ini diperingati setiap tahun pada hari ke-17 bulan Ramadan.
Kapan Nuzulul Quran Dirayakan di Indonesia?
Penetapan tanggal 17 Ramadan berbeda antara lembaga pemerintah/NU dan Muhammadiyah karena perbedaan metode penentuan awal Ramadan. Versi pemerintah dan NU memperkirakan awal Ramadan 1447 H pada 19 Februari 2026, sehingga 17 Ramadan jatuh pada Sabtu, 7 Maret 2026 dan malam Nuzulul dimulai Jumat malam, 6 Maret 2026. Sementara Muhammadiyah menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal, menempatkan 17 Ramadan pada Jumat, 6 Maret 2026 dengan malam Nuzulul dimulai Kamis malam, 5 Maret 2026.
Makna Spiritual di Balik Peristiwa
Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk (hudan), penjelasan (bayyinat), dan pembeda (furqan) bagi umat manusia. Ayat 185 Surah Al-Baqarah menegaskan peran Qur’an sebagai cahaya dalam bulan suci Ramadan. Tafsir Quraish Shihab menambahkan bahwa petunjuk tersebut meliputi akidah, syariat, dan akhlak, serta menjelaskan cara mengamalkannya.
Hubungan dengan Perang Badar
Beberapa ulama mengaitkan malam Nuzulul Quran dengan Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadan tahun kedua Hijriah. Surat Al-Anfal ayat 41 menyebut hari itu sebagai “Yaumul Furqan”, hari pemisah antara kebenaran dan kebatilan. Kemenangan kaum Muslimin pada Badar menjadi bukti nyata bahwa petunjuk Qur’an dapat diwujudkan dalam perjuangan nyata.
Amalan pada Malam Nuzulul Quran
- Membaca Al-Qur’an – Membaca Qur’an pada malam ini diyakini mendatangkan pedoman hidup, pahala berlipat, syafaat, serta ketenangan jiwa.
- Sholat malam (Qiyamul-Lail) – Dilakukan dalam bentuk tahajud atau sholat sunnah, memberi keutamaan setelah sholat wajib dan memudahkan pengabulan doa.
- Dzikir dan doa – Mengulang tasbih, tahmid, tahlil, serta doa khusus memohon ampunan, seperti “Allahumma innaka afuwwun …”.
- Sedekah – Menyalurkan harta kepada yang membutuhkan, baik secara konvensional maupun lewat platform daring.
- Kajian daring – Bagi yang tidak dapat hadir di masjid, mengikuti ceramah online menjadi alternatif yang produktif.
Al-Qur’an dalam Kehidupan Sehari-hari
Hubungan umat Islam dengan Qur’an dapat dilihat dalam tiga tingkatan: tilawah (pembacaan), tadabbur (pemahaman), dan tathbiq (pengamalan). Tilawah memberi pahala, tadabbur membuka pintu hikmah, dan tathbiq menjadikan nilai-nilai Qur’an tercermin dalam akhlak dan tindakan sehari-hari.
Tantangan Era Digital
Era digital menghadirkan gangguan berupa media sosial dan konten yang tidak produktif. Malam Nuzulul Quran menjadi momentum untuk “reset” prioritas, menempatkan Al-Qur’an kembali sebagai kompas hidup, bukan sekadar hiasan di rak buku.
Hikmah Perbedaan Penetapan
Perbedaan tanggal antara pemerintah/NU dan Muhammadiyah menunjukkan keragaman metodologi perhitungan (hisab vs rukyat). Perbedaan ini bukan sumber perpecahan, melainkan contoh keluwesan Islam yang memungkinkan variasi sahih dalam menentukan awal Ramadan.
Semoga malam Nuzulul Quran menjadi titik tolak untuk meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an, tidak hanya selama Ramadan tetapi sepanjang tahun, melalui membaca, memahami, dan mengamalkan ajarannya.












