PSPK – 17 April 2026 | Sejak awal 2024, Kementerian Unifikasi Korea Selatan melaporkan bahwa perekonomian Korea Utara mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pemulihan ini dipicu oleh penguatan hubungan perdagangan dan diplomatik Pyongyang dengan dua negara besar, China dan Rusia.
Selama beberapa dekade, pertumbuhan ekonomi DPRK terhambat oleh kebijakan sosialis yang kaku, belanja militer yang tinggi, serta sanksi internasional yang menargetkan program nuklir dan misilnya. Namun, dukungan ekonomi tradisional dari China kini diperkuat oleh kerja sama yang lebih intensif dengan Rusia, terutama setelah Moskow melancarkan invasi penuh ke Ukraina pada 2022.
Berikut ini beberapa faktor utama yang dianggap mempercepat proses pemulihan ekonomi Korea Utara:
- Restorasi layanan transportasi langsung antara Beijing dan Pyongyang, termasuk penerbangan Air China dan kereta api penumpang harian.
- Peningkatan volume perdagangan barang konsumsi dan bahan baku dengan China.
- Bantuan teknologi dan militer dari Rusia sebagai imbalan atas dukungan logistik dalam konflik Ukraina.
- Kebijakan China untuk memperluas kerja sama praktis dengan Pyongyang, sebagaimana disampaikan oleh Menteri Luar Negeri China dalam kunjungan terbaru.
Meski data resmi dari Pyongyang tidak tersedia, perkiraan Seoul menyebut Produk Domestik Bruto (PDB) nominal Korea Utara mencapai sekitar US$30 miliar pada 2024, yang masih jauh di bawah ekonomi tetangga selatan. Untuk memberi gambaran perbandingan, tabel berikut menampilkan perkiraan PDB Korea Utara dan Korea Selatan.
| Negara | PDB (US$ miliar, 2024) |
|---|---|
| Korea Utara | 30 |
| Korea Selatan | 1 800 |
Para analis menilai bahwa dukungan ekonomi dari China dan Rusia tidak hanya memperbaiki neraca perdagangan, tetapi juga memberikan akses teknologi yang dapat menstimulasi sektor industri ringan dan pertanian. Di sisi lain, Pyongyang tetap melanjutkan program nuklir dan pengembangan misil, meskipun tekanan internasional terus berlanjut.
Pada Februari 2024, Kim Jong Un menyampaikan janji untuk meningkatkan standar hidup warga melalui program pembangunan yang disebut sebagai fase “optimisme dan kepercayaan diri di masa depan”. Pernyataan tersebut mencerminkan upaya pemerintah untuk menyeimbangkan antara kebijakan militer dan kebutuhan ekonomi rakyat.
Jika tren pemulihan ini berlanjut, Korea Utara berpotensi keluar dari fase kontraksi yang telah berlangsung selama beberapa tahun dan memasuki fase pertumbuhan bertahap, meski dengan banyak tantangan struktural dan geopolitik.












