PSPK – 16 April 2026 | Bank Sentral Jepang (BOJ) diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1,00 % pada akhir Juni 2024, setelah hampir dua pertiga ekonom dalam survei Reuters menilai langkah tersebut paling mungkin terjadi. Kenaikan ini muncul di tengah ketidakpastian yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah, khususnya perang yang melibatkan Iran.
Survei yang dilakukan antara 7‑14 April mencatat bahwa 65 % dari 71 ekonom memperkirakan suku bunga akan mencapai 1,00 % pada akhir Juni, meningkat dari 60 % pada Maret dan 58 % pada Februari. Dari 40 responden yang memberi prediksi waktu, 38 % memilih April dan 35 % memilih Juni sebagai bulan penyesuaian pertama.
Para pengamat memiliki pandangan yang beragam. Hiroshi Namioka, kepala strategi di T&D Asset Management, menekankan bahwa pelemahan yen sekitar 2 % terhadap dolar sejak perang dimulai menambah tekanan bagi pembuat kebijakan untuk bertindak lebih cepat. Sebaliknya, Junki Iwahashi, ekonom senior di Sumitomo Mitsui Trust Bank, berpendapat bahwa lonjakan harga minyak akibat konflik dapat menambah beban pada perekonomian, menjadikan keputusan kenaikan suku bunga pada bulan Juni menjadi sulit.
| Periode | Prediksi Suku Bunga (%) |
|---|---|
| Juni 2024 | 1,00 |
| Kuartal IV 2024 | 1,25 |
| Kuartal III 2027 | 1,50 |
| Akhir 2027 | 1,75 (perkiraan) |
Inflasi Jepang tetap berada di atas target 2 % selama empat tahun terakhir, mendorong BOJ menyiapkan dasar untuk pengetatan kebijakan moneter. Meskipun suku bunga kebijakan Jepang masih di bawah tingkat netral (sekitar 0,75 %), tekanan harga energi dan biaya produksi akibat perang memperkuat ekspektasi hawkish.
Dalam jajak pendapat, 62 % responden memperkirakan perang Iran akan menambah indeks harga konsumen inti (CPI) Jepang sebesar 0,2‑0,4 poin persentase secara kumulatif dalam 12 bulan ke depan. Revisi perkiraan inflasi inti tahunan naik 0,1‑0,3 poin persentase setiap kuartal hingga Juni 2025. Meskipun tidak ada yang memprediksi resesi, pertumbuhan PDB tahunan diproyeksikan melambat drastis: dari 1,1 % pada kuartal Maret menjadi 0,4 % untuk April‑Juni, dan hanya 0,7 % untuk kuartal berikutnya.
Mayoritas responden (21 dari 29) menilai risiko stagflasi di Jepang rendah atau sangat rendah, meski tekanan inflasi dan pelemahan yen tetap menjadi tantangan utama bagi kebijakan moneter ke depan.












