PSPK – 26 Maret 2026 | Bank sentral di Asia mengambil langkah cepat pada hari Kamis untuk menenangkan pasar yang tertekan akibat lonjakan harga minyak global. Korea Selatan mengumumkan pembelian kembali obligasi darurat senilai 5 triliun won (sekitar US$3,3 miliar), sementara Bank Sentral Filipina (BSP) mengadakan pertemuan kebijakan mendadak dan mempertahankan suku bunga acuan pada 4,25 persen.
Langkah Korea Selatan
Bank sentral Korea Selatan membagi pembelian obligasi menjadi dua tahap: 2,5 triliun won pada 27 Maret dan 2,5 triliun won pada 1 April. Tujuannya adalah menambah likuiditas di pasar obligasi domestik dan menahan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah tiga tahun yang sempat menembus level tertinggi sejak pertengahan 2024. Kebijakan ini bersamaan dengan peningkatan batas harga bahan bakar dan perluasan keringanan pajak bahan bakar untuk mengurangi beban konsumen akibat harga minyak internasional yang melonjak.
Keputusan Bank Sentral Filipina
Dalam tinjauan kebijakan yang diadakan lebih awal dari jadwal, BSP menegaskan bahwa inflasi masih berada dalam kendali dan tidak ada kebutuhan untuk menaikkan suku bunga saat ini. Gubernur BSP Eli Remolona menekankan pentingnya menilai dampak konflik di Timur Tengah terhadap pertumbuhan dan inflasi, serta menyatakan kesiapan bank sentral untuk bertindak lebih agresif jika ekspektasi inflasi menurun. Suku bunga tetap pada 4,25 persen, sementara proyeksi pertumbuhan ekonomi Filipina diturunkan menjadi 4,4 persen, dibandingkan perkiraan sebelumnya 4,6 persen.
Dampak Geopolitik dan Energi
Kedua negara sangat bergantung pada impor energi, terutama minyak yang melewati Selat Hormuz yang telah tertutup secara efektif sejak awal Maret. Di Filipina, kenaikan biaya bahan bakar memicu protes jalanan dari pekerja transportasi. Presiden Ferdinand Marcos Jr. menyatakan keadaan darurat energi nasional untuk mempercepat pengadaan minyak, mengingat persediaan nasional hanya cukup untuk 45 hari pada 20 Maret.
Implikasi Regional
Langkah-langkah kebijakan ini menambah daftar respons di seluruh Asia terhadap tekanan ekonomi yang ditimbulkan perang antara AS‑Israel dan Iran. Jepang diperkirakan akan menaikkan suku bunga pada Juni akibat kenaikan biaya minyak. Bank Pembangunan Asia memperingatkan bahwa konflik tersebut dapat mengurangi pertumbuhan negara‑negara berkembang di Asia hingga 1,3 poin persentase pada 2026‑2027 dan menambah inflasi sebesar 3,2 poin persentase jika gangguan energi berlanjut lebih dari satu tahun.
Secara keseluruhan, tindakan koordinasi kebijakan moneter dan fiskal di Korea Selatan serta Filipina menunjukkan upaya bersama untuk menstabilkan pasar keuangan dan melindungi perekonomian regional dari gejolak eksternal.












