PSPK – 14 April 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan serangan tajam kepada Paus Leo XIV setelah Santo Petrus mengkritik kebijakan Washington terhadap Iran. Trump menegaskan lewat unggahan di platform media sosialnya bahwa tidak ada tempat bagi Paus yang menentang keputusan presiden.
Paus Leo XIV sebelumnya menilai ancaman yang ditimbulkan oleh Amerika Serikat terhadap rakyat Iran tidak dapat diterima. Dalam sebuah homili pada awal April, Paus menyinggung bahwa keinginan untuk menguasai atau mendominasi tidak sejalan dengan ajaran Yesus Kristus.
Serangan Trump muncul setelah Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, mengajak umat berdoa bagi para prajurit AS. Trump menanggapi dengan mengatakan bahwa ia tidak menginginkan Paus yang menganggap wajar bila Iran memiliki senjata nuklir, atau menganggap Amerika “mengerikan” karena serangan di Venezuela, serta menolak kritik apa pun terhadap kepemimpinannya.
Dalam tulisan yang dikutip oleh Antara pada 14 April 2026, Trump menyebut bahwa Paus tidak akan berada di Vatikan bila ia tidak berada di Gedung Putih, dan meminta Paus untuk berhenti “menjilat” kelompok kiri radikal serta fokus pada peran religiusnya, bukan menjadi politisi.
Ketegangan ini terjadi bersamaan dengan laporan bahwa Amerika Serikat menyiapkan operasi blokade total di Selat Hormuz sebagai respons terhadap kebijakan Iran. Pemerintah Tehran diperkirakan akan menanggapi langkah tersebut dengan meningkatkan tekanan militer dan diplomatik.
Perselisihan antara pemimpin politik terbesar dunia dan kepala gereja Katolik ini menambah dimensi baru dalam hubungan internasional, terutama terkait isu nuklir Iran dan kebijakan luar negeri Amerika. Observasi para analis menunjukkan bahwa retorika keras kedua pihak dapat memperburuk suasana diplomatik dan memicu ketidakpastian di kawasan Timur Tengah.










