Project Seru Penuh Kejutan
Berita  

Jurnalis Perempuan di Indonesia Masih Minim, Rentan terhadap Kekerasan

April 12, 2026 • 0 Views
Jurnalis Perempuan di Indonesia Masih Minim, Rentan terhadap Kekerasan
Jurnalis Perempuan di Indonesia Masih Minim, Rentan terhadap Kekerasan

PSPK – 12 April 2026 | Di Indonesia, jurnalis perempuan masih menjadi kelompok minoritas yang signifikan. Menurut laporan Potret Jurnalis Indonesia 2025 yang disusun oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI), perempuan hanya menyumbang sekitar 21,5 persen dari total tenaga kerja jurnalistik. Angka ini belum menunjukkan peningkatan berarti dibandingkan dekade sebelumnya.

Ketimpangan gender ini berdampak pada kemampuan media dalam menyajikan liputan krisis iklim yang sensitif terhadap pengalaman perempuan dan kelompok rentan. Pada sebuah talkshow bertajuk “Lensa Terpinggirkan: Suara Jurnalis Perempuan dalam Krisis Iklim dan Kelompok Rentan” yang diselenggarakan dalam rangka Pesta Media AJI Jakarta 2026, Ketua Umum AJI, Nany, menekankan bahwa jurnalis perempuan tidak hanya sedikit jumlahnya, tetapi juga menghadapi hambatan struktural yang berlapis.

Berikut beberapa tekanan yang dihadapi oleh jurnalis perempuan:

  • Kekerasan berbasis gender, baik fisik maupun digital.
  • Diskriminasi di ruang redaksi, termasuk stereotip peran gender.
  • Beban kerja ganda antara tugas profesional dan tanggung jawab rumah tangga.
  • Perlindungan kerja yang lemah, sehingga korban kekerasan sulit mendapatkan bantuan.

Data AJI mencatat bahwa pada tahun 2025 terdapat 91 kasus kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia, di mana 11 di antaranya menimpa jurnalis perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan di bidang jurnalistik masih sering dianggap normal dan kurang mendapat respons yang memadai.

Kurangnya jumlah jurnalis perempuan juga memengaruhi proses rekrutmen, khususnya di media yang menyoroti isu lingkungan. Sapariah Saturi, Managing Editor Mongabay Indonesia, mengungkapkan bahwa organisasi mereka masih kesulitan menemukan jurnalis perempuan yang dapat memperkaya liputan krisis iklim. Menurutnya, perempuan seringkali menjadi narasumber utama dalam komunitas yang paling terdampak, seperti daerah pesisir atau wilayah rawan bencana, sehingga kehadiran jurnalis perempuan dapat membuka akses informasi yang sebelumnya terhalang.

Evi Mariani, salah satu pendiri Project Multatuli, menambahkan bahwa keberadaan jurnalis perempuan tidak boleh dipandang sekadar memenuhi kuota, melainkan sebagai kebutuhan mendasar untuk memperluas perspektif media. Tanpa suara perempuan, isu-isu penting seperti kesehatan mental ibu pasca melahirkan, kerja perawatan, serta dampak sosial krisis iklim pada kehidupan domestik seringkali terlewatkan.

Para pembicara sepakat bahwa peningkatan jumlah jurnalis perempuan dan perbaikan kondisi kerja mereka adalah prasyarat penting untuk menghasilkan liputan yang lebih adil, inklusif, dan berorientasi pada kelompok paling terdampak.

Statistik 2025 Jumlah
Total kasus kekerasan terhadap jurnalis 91
Kekerasan yang menimpa jurnalis perempuan 11
Persentase jurnalis perempuan 21,5 %

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *