PSPK – 11 April 2026 | Jakarta, 11 April 2026 – Ketegangan geopolitik yang memuncak antara Amerika Serikat‑Israel dan Iran kini menimbulkan kecemasan baru di kalangan pengguna internet global. Pakar geopolitik Timur Tengah, Dina Sulaeman, menegaskan bahwa konflik di Selat Hormuz tidak hanya mengancam pasokan energi, melainkan berpotensi memicu krisis digital yang dapat membuat jaringan internet dunia mengalami gangguan massal.
Selat Hormuz: Lebih Dari Jalur Minyak
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur strategis bagi pengiriman minyak dan gas. Namun, menurut Sulaeman, selat tersebut menyimpan infrastruktur penting berupa jaringan serat optik bawah laut yang menjadi tulang punggung komunikasi data internasional. Kabel-kabel ini menghubungkan benua Asia, Eropa, dan Amerika, sehingga setiap gangguan dapat memicu pemadaman layanan internet, telepon seluler, serta layanan cloud.
Selain serat optik, jalur laut ini juga menjadi rute pengiriman helium, urea, dan sulfur—bahan baku penting bagi industri AI, teknologi medis, serta produksi pupuk. Keterlambatan atau blokade pengiriman dapat menimbulkan efek domino pada rantai pasokan pangan dan teknologi, memperparah ketergantungan dunia pada sumber daya yang melintasi Selat Hormuz.
Target 17 Raksasa Teknologi Amerika Serikat
Dina Sulaeman mengungkap bahwa Iran menargetkan 17 perusahaan teknologi besar asal Amerika Serikat yang diyakini menyediakan dukungan militer bagi Israel dalam konflik Gaza. Di antara perusahaan yang disebutkan adalah Amazon, Microsoft, Google, Nvidia, Meta, serta layanan satelit Starlink. Salah satu fokus utama adalah Palantir, perusahaan analisis data yang diklaim menyediakan sistem pengawasan canggih bagi pasukan Israel.
Target ini bukan sekadar tindakan politik; mereka berpotensi menimbulkan gangguan pada layanan data center, cloud computing, dan platform komunikasi yang bergantung pada infrastruktur fisik di wilayah tersebut. Jika serangan siber atau sabotase fisik berhasil, kapasitas penyimpanan dan pemrosesan data global dapat berkurang drastis, mengakibatkan penurunan kecepatan internet dan bahkan pemadaman layanan penting seperti layanan perbankan digital, layanan kesehatan telemedicine, serta sistem logistik berbasis IoT.
- Amazon – layanan cloud (AWS) dan e‑commerce.
- Microsoft – Azure, layanan Office 365, dan solusi keamanan.
- Google – pencarian, YouTube, dan Google Cloud.
- Nvidia – chip AI dan pusat data.
- Meta – jaringan media sosial dan platform VR.
- Starlink – jaringan satelit broadband.
- Palantir – analisis data militer dan sipil.
Implikasi Ekonomi AS dan Dunia
Serangan terhadap infrastruktur digital tidak hanya mengancam keamanan siber, tetapi juga menimbulkan kerentanan ekonomi. Dina menyoroti bahwa Amerika Serikat tidak hanya bergantung pada pasokan minyak dari Selat Hormuz, melainkan pada aliran modal yang berasal dari pembeli obligasi negara‑negara Teluk. Jika ketegangan mengganggu jalur perdagangan dan kepercayaan investor, permintaan obligasi AS dapat menurun, meningkatkan biaya pinjaman bagi pemerintah dan sektor swasta.
Lebih jauh, gangguan pada distribusi pupuk akibat terhambatnya pengiriman urea dan sulfur dapat menurunkan produksi pertanian global, mengakibatkan lonjakan harga pangan. Kombinasi krisis energi, data, dan pangan dapat memicu inflasi global yang meluas, menambah beban pada konsumen di negara‑negara berkembang maupun maju.
Langkah Mitigasi dan Respons Internasional
Beberapa negara dan perusahaan teknologi telah mulai menyiapkan rencana kontinjensi. Penguatan jalur kabel serat optik alternatif di Samudra Hindia dan Atlantik, serta peningkatan kapasitas satelit berorbit rendah (LEO) menjadi prioritas. Selain itu, diversifikasi penyimpanan data ke pusat data di wilayah yang lebih aman dipandang sebagai upaya mengurangi risiko terpusat.
Di tingkat diplomatik, PBB dan organisasi regional berupaya memediasi de‑eskalasi, sementara pemerintah AS meningkatkan kesiapan militer di kawasan Teluk untuk melindungi infrastruktur kritis. Namun, ketegangan yang terus memanas menandakan bahwa ancaman terhadap layanan internet tetap tinggi hingga solusi politik yang berkelanjutan tercapai.
Jika konflik berlanjut, konsumen internet di seluruh dunia harus bersiap menghadapi potensi pemadaman layanan, lonjakan harga data, serta gangguan pada aplikasi penting yang menjadi tulang punggung kehidupan modern. Kesiapan jaringan alternatif, edukasi keamanan siber, dan koordinasi internasional menjadi kunci untuk menahan dampak terburuk.










