PSPK – 06 April 2026 | Dalam sebuah percakapan telepon yang berlangsung pada Minggu, 5 April 2026, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan sikap tegas negara Islam tersebut dalam menghadapi tekanan yang datang dari Amerika Serikat dan Israel. Pembicaraan itu dilakukan dengan Menteri Luar Negeri sekaligus Wakil Perdana Menteri Pakistan, Mohammad Ishaq Dar, yang sekaligus menegaskan peran diplomatik Pakistan dalam menengahi ketegangan yang semakin memuncak di kawasan Timur Tengah.
Latar Belakang Telepon
Panggilan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum terkait pembukaan Selat Hormuz pada 6 April 2026. Iran menolak secara tegas ultimatum tersebut, menilai langkah itu sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan dan kepentingan ekonomi negara. Sementara itu, pernyataan keras Iran muncul bertepatan dengan laporan Al Jazeera yang menyoroti eskalasi konflik di wilayah tersebut.
Pernyataan Iran
Araghchi menegaskan bahwa Amerika Serikat dan Israel merupakan pihak yang "bertanggung jawab" atas ketidakstabilan regional dan dampaknya yang meluas secara global. Ia menambahkan bahwa Iran memiliki tekad kuat untuk mempertahankan kedaulatan serta integritas wilayahnya, bahkan bersedia menggunakan segala cara yang diperlukan. Dalam percakapan itu, Araghchi menyinggung kembali kebijakan luar negeri Iran yang menolak tekanan eksternal dan berkomitmen pada pertahanan diri, termasuk kemungkinan penggunaan sarana militer atau diplomatik lain bila diperlukan.
Posisi Pakistan
Di sisi lain, Ishaq Dar menekankan pentingnya penyelesaian damai melalui dialog dan konsultasi berkelanjutan. Pakistan, yang secara historis menjalin hubungan baik dengan kedua belah pihak, berupaya menjadi jembatan komunikasi di antara Iran, Amerika Serikat, dan sekutu-sekutunya. Dar menegaskan bahwa Pakistan tidak akan memihak pada satu pihak, melainkan akan terus mendorong proses negosiasi untuk meredam ketegangan. Ia juga mengingatkan bahwa stabilitas kawasan sangat penting bagi keamanan energi global, mengingat jalur pelayaran di Selat Hormuz menjadi arus utama pengiriman minyak dunia.
Selain peran sebagai mediator, Dar juga menyinggung pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, di Moskow pada November 2025. Pertemuan itu memperkuat jaringan diplomatik Pakistan dalam upaya menyeimbangkan kepentingan geopolitik antara kekuatan besar, sekaligus menegaskan komitmen Islamabad untuk menjadi pemain kunci dalam penyelesaian konflik Timur Tengah.
Implikasi Regional
Telepon ini menandai langkah penting dalam dinamika hubungan Iran‑Pakistan. Sementara Iran menegaskan kesiapan menghadapi tekanan AS‑Israel, Pakistan menampilkan sikap konstruktif dengan mengedepankan diplomasi multilateral. Kedua negara tampaknya bersepakat bahwa konflik yang berkepanjangan dapat merusak perekonomian regional, terutama sektor energi yang sangat bergantung pada kelancaran pelayaran di Selat Hormuz.
Para pengamat menilai bahwa pernyataan tegas Iran dapat memperkuat posisi tawar negara tersebut dalam negosiasi internasional, namun sekaligus meningkatkan risiko konfrontasi militer jika tekanan eksternal tidak mereda. Di sisi lain, peran aktif Pakistan sebagai mediator dapat meningkatkan pengaruhnya di kancah global, sekaligus memberi peluang bagi negara tersebut untuk memperkuat hubungan dengan Rusia, China, serta negara-negara Muslim lainnya.
Secara keseluruhan, percakapan telepon antara Abbas Araghchi dan Mohammad Ishaq Dar mencerminkan kompleksitas geopolitik kawasan yang dipengaruhi oleh kepentingan energi, keamanan, serta rivalitas kekuatan besar. Kedua negara tampaknya menyadari bahwa solusi damai dan dialog berkelanjutan menjadi kunci utama untuk menghindari eskalasi lebih lanjut yang dapat berdampak pada stabilitas global.










