PSPK – 05 April 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu (4 April) memperingatkan pemerintah Tehran bahwa mereka hanya memiliki 48 jam untuk menandatangani kesepakatan atau menghadapi konsekuensi yang ia sebut “neraka besar”. Pernyataan tersebut muncul di tengah operasi gabungan pasukan AS dan Iran yang sedang mencari dua pilot pesawat Amerika yang jatuh di wilayah Iran.
Ultimatum baru ini mengacu pada pernyataan Trump pada 26 Maret yang memberi Iran sepuluh hari untuk membuka Selat Hormuz. Kini, ia menegaskan batas waktu berkurang menjadi dua hari, dengan ancaman akan menutup selat yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas dunia.
Berbagai peristiwa terbaru memperkeruh situasi. Pada Sabtu, serangan di dekat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr menewaskan seorang penjaga dan memaksa Rusia, yang ikut membangun fasilitas tersebut, mengevakuasi hampir 200 pekerjanya. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan bahwa serangan terus‑menerus terhadap instalasi energi di pantai selatan dapat memicu kebocoran radioaktif yang mengancam negara‑negara Teluk.
Dalam minggu‑minggu terakhir, Iran mengklaim berhasil menembak jatuh pesawat tempur F‑15 AS serta pesawat serang A‑10 di Teluk. Media Amerika melaporkan bahwa satu pilot F‑15 berhasil diselamatkan, sementara yang lainnya masih hilang. Tim khusus AS bersama pasukan rakyat Iran serta suku‑suku setempat terlibat dalam operasi pencarian yang intens, bahkan terjadi tembak‑menembak terhadap helikopter militer.
Para pengamat menilai bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil seperti pembangkit listrik dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Ghalibaf, mengejek kebijakan Trump, menyebutnya sebagai perang “Hei! Bisakah seseorang menemukan pilot kami?”.
Situasi di dalam negeri Iran juga semakin tegang. Warga di kota‑kota seperti Khansar mengungkapkan kekhawatiran atas dampak ekonomi, PHK massal, dan penutupan usaha yang meluas. Di Teheran, kabut asap tebal menutupi cakrawala setelah serangan menimpa area industri dan pusat petrokimia di perbatasan Iran‑Irak.
Berikut rangkuman kronologis utama:
- 21 Mar 2024 – Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka dalam 48 jam.
- 26 Mar 2024 – Ultimatum 10 hari diberikan kepada Iran untuk mencapai kesepakatan.
- 30 Mar 2024 – Trump menunda serangan selama lima hari setelah “percakapan produktif” dengan otoritas Iran.
- 4 Apr 2024 – Ultimatum 48 jam ditegaskan kembali; serangan di sekitar PLTN Bushehr terjadi.
- 4 Apr 2024 – AS dan Iran melancarkan pencarian pilot yang jatuh; laporan tembakan terhadap helikopter AS.
Ketegangan ini menambah risiko gangguan pasokan energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pengiriman minyak paling strategis. Jika ultimatum Trump tidak dipenuhi, kemungkinan penutupan selat dapat memperparah krisis energi dan menimbulkan dampak ekonomi luas.










