PSPK – 01 April 2026 | Bangkok – Seiring meningkatnya ketegangan energi global, negara‑negara di Asia semakin berlomba untuk memperoleh minyak mentah Rusia. Konflik yang telah berlangsung selama sebulan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memutus sekitar satu‑per lima pasokan minyak dunia, menambah tekanan pada pasar energi yang sudah rapuh.
Latihan Pasokan dan Dampak Perang Iran
Mayoritas minyak yang mengalir melalui Selat Hormuz menuju Asia kini terancam. Pada akhir pekan, pemberontak Houthi yang mendapat dukungan Iran turut memasuki konflik, memperparah risiko pengiriman. Untuk menstabilkan pasar, Amerika Serikat sementara melonggarkan sanksi atas minyak Rusia yang berada di laut, pertama bagi India dan kemudian secara global.
Permintaan Asia dan Batas Kapasitas Rusia
Permintaan di Asia melonjak, sementara Rusia sudah mengekspor pada tingkat mendekati puncaknya. Analis Kpler, Muyu Xu, menegaskan bahwa ketersediaan kargo masih terbatas. Rusia saat ini mengalirkan sekitar 3,8 juta barel per hari, naik dari 3,2 juta barel pada Februari, namun masih di bawah puncak 3,9 juta barel pada pertengahan 2023.
Negara‑Negara yang Menunjukkan Minat
- Filipina – mengimpor minyak Rusia untuk pertama kalinya dalam lima tahun setelah menyatakan darurat energi.
- Indonesia – mempertimbangkan diversifikasi sumber, termasuk Rusia dan Brunei.
- Thailand – masih menunggu perkembangan lebih lanjut.
- Vietnam – menjajaki kerja sama energi dengan Rusia dalam kunjungan perdana perdana menteri.
- China dan India – tetap menjadi pembeli utama sebelum pelonggaran sanksi AS.
Kondisi di Filipina
Filipina, dengan populasi 117 juta jiwa, mengalami antrean panjang di SPBU dan bahkan maskapai penerbangan mempertimbangkan penjatahan bahan bakar. Sebelumnya, hampir 97 % impor minyaknya berasal dari Timur Tengah. Krisis ini menjadi peringatan bagi negara‑negara Asia Tenggara lainnya.
Perbandingan Impor India dan China
| Negara | Impor Minyak Rusia (juta barel/hari) – Maret | Impor Minyak dari Timur Tengah (juta barel/hari) – Sebelum Konflik |
|---|---|---|
| India | 1,9 | 2,6 |
| China | — (menyediakan cadangan internal) | — |
India meningkatkan impor Rusia menjadi hampir 2 juta barel per hari, namun masih jauh di bawah kebutuhan yang biasanya dipenuhi oleh Timur Tengah. China, di sisi lain, memiliki cadangan darat sekitar 1,2 miliar barel, setara empat bulan impor laut, sehingga dampak jangka pendek lebih terkendali.
Tantangan dan Prospek
Dengan persediaan minyak darurat yang menipis, negara‑negara Asia yang bergantung pada impor harus menunggu perpanjangan pengecualian sanksi AS atau mencari alternatif seperti minyak dari Amerika Selatan atau Afrika Barat, yang secara geografis kurang menguntungkan. Para analis memperingatkan bahwa krisis ini menyoroti betapa cepatnya geopolitik dapat berubah, memaksa pemerintah untuk memprioritaskan keamanan energi di atas pertimbangan lain.
Secara keseluruhan, meski Rusia tetap menjadi sumber penting, kemampuan ekspor Rusia terbatas dan persaingan di antara pembeli Asia semakin ketat. Negara‑negara yang tidak dapat mengamankan pasokan dalam waktu singkat berisiko menghadapi kekurangan energi yang berdampak pada sektor transportasi, industri, dan kesejahteraan masyarakat.












