PSPK – 31 Maret 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Senin menegaskan bahwa Amerika tidak akan mengatasi krisis di Selat Hormuz sendirian. Dalam konferensi pers di atas Air Force One, Trump menuntut tujuh negara sekutu, termasuk Inggris, Perancis, Jerman, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Jepang, dan Australia, untuk mengerahkan kapal perang masing‑masing ke wilayah strategis itu.
Trump menuturkan bahwa kehadiran armada sekutu akan menambah tekanan pada Iran, yang menurutnya telah mengirimkan dua puluh kapal tanker minyak lewat selat tersebut sebagai “tanda penghormatan”. Pernyataan itu muncul di tengah negosiasi yang masih rapuh antara Washington dan Teheran, setelah Iran menolak sepuluh poin rencana gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat.
Langkah Diplomasi dan Militer Bersamaan
Presiden menekankan bahwa diplomasi masih menjadi jalur utama, namun “kita harus siap dengan kekuatan militer bila diperlukan”. Ia menambahkan, “Kami tidak akan membiarkan satu negara menanggung beban semua” dan menegaskan bahwa koalisi negara‑negara NATO serta sekutu di Teluk harus menyiapkan kapal perusak, fregat, dan kapal selam untuk mengamankan jalur pelayaran.
Sejumlah pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa perintah ini sudah masuk ke Departemen Pertahanan, dengan target penempatan armada pada minggu depan. Jika semua negara yang diminta menuruti, jumlah kapal perang yang beroperasi di Selat Hormuz dapat mencapai lebih dari dua puluh unit, menandai eskalasi militer terbesar di kawasan itu sejak krisis 2019.
Respon Iran dan Dampak Ekonomi
Iran menolak tuduhan bahwa mereka “menghormati” Amerika dengan mengirim tanker, menyebutnya sebagai manipulasi narasi. Tehran menegaskan kembali bahwa semua kapal yang melintas harus mematuhi hukum internasional dan menolak intervensi militer asing.
Para analis energi memperingatkan bahwa penutupan atau gangguan di Selat Hormuz dapat memengaruhi hampir 20 persen pasokan minyak dunia. Harga minyak mentah sudah naik di atas 100 dolar per barel pada hari Senin, dan beberapa lembaga memperkirakan lonjakan hingga 200 dolar bila konflik meluas.
Reaksi Internasional
Di Eropa, Perdana Menteri Inggris menyatakan akan meninjau kesiapan angkatan lautnya, sementara Menteri Pertahanan Prancis menegaskan perlunya koordinasi multinasional. Di Asia, Jepang dan Australia mengumumkan akan mengerakkan kapal perusak masing‑masing, namun menekankan perlunya jalur diplomatik tetap terbuka.
Pakar keamanan, Suzanne Maloney dari Brookings Institution, mengkritik keputusan Trump yang “tidak bertanggung jawab” karena dapat memperparah volatilitas pasar energi global dan menimbulkan risiko konfrontasi militer yang tidak diinginkan.
Meski demikian, tim penasihat strategis Trump menilai bahwa tekanan militer bersama sekutu dapat memaksa Iran kembali ke meja perundingan dan mempercepat proses penyelesaian yang selama ini terhambat.
Dengan tekanan politik dan militer yang semakin meningkat, masa depan Selat Hormuz tetap tidak pasti. Namun, upaya koalisi yang diusulkan Trump menunjukkan bahwa Amerika Serikat berusaha menegaskan peran kepemimpinannya di kawasan Timur Tengah, sambil mengandalkan dukungan internasional untuk menghindari beban tunggal.










